Memperbincangkan, atau menelaah ‘kekisruhan’ pada polemic, BX-ers dan Lokalers ini semata” karena persepsi yang berbeda dan dukungan beberapa kondisi yang berkembang saat ini. Permasalahan yang ditimbulkan oleh Lokalers terhadap kehadiran sapi” BX di Negara ini karena permasalahan TATANIAGA yang lahir karena adanya KEBUTUHAN masyarakat akan daging yang didasarkan pada KINERJA ternak sapi yang diusahakan.
Sekarang yuks kita coba telaah tentang sapi BX.

Sapi BX (baca : Brahman Cross), adalah ternak sapi hasil domestikasi/ penjinakan sapi Brahman (asal India) yang dikembangkan di Amerika dan Australia dan disilangkan dengan jenis ternak dari daratan Amerika, seperti Shorthorn, Santa Gertrudis, Droughmaster, Hereford. Hasil silangan ini juga menjadi pejantan untuk mengawini induk Brahman sehingga campuran darah dalam setiap keturunan sangat bervariasi. Model yang diterapkan dalam pelaksanaan pengembangan sapi Brahman Cross adalah menghasilkan ternak sapi yang memiliki pertumbuhan baik dan tahan terhadap iklim tropis serta penyakit/hama penyebab penyakit, kutu dan tunggau
Di Australia yang nota bene masih memiliki kondisi lahan yang menunjang pemeliharaan ternak model savanna dan pertumbuhan legume yang baik pada lahan savanna, menyebabkan biaya pakan sangat ekonomis, peternak hanya memberikan sedikit pakan penguat dan melakukan sedikit aktifitas lebih berat saat penyimpanan makanan untuk persediaan musim dingin.Perkawinan alam, penanganan kelahiran yang alami, biaya pakan yang ekonomis, penggunaan tenaga kerja yang efisien, penggunaan alat beratyang mempermudah pelaksanaan usaha menyebabkan perkembangan ternak ini sangat cepat dan efisien. Harga yang ditawarkanpun menjadi sangat kompetitif, biaya antar ternak – biaya handling – ditambah keuntungan peternak masih berada dibawah harga beli masyarakat Indonesia.
Ditambah dengan pangsa pasar Negara ini yang berjargon “yang pentingdaging”, maka penjualan daging jenis apapun sangat mudah, meski ada beberapa usaha makanan asal daging yang menerapkan syarat tertentu (penjual daging veal, prime beefmeat)

Sapi local
Kita namakan sapi local karena kita anggap bahwa sapi itu bukan sapi impor … sesungguhnya ternak itu merupakan perkembangan dari beberapa jenis ternak sapi potong yang pernah diimpor Indonesia pada masa lalu dan dikembangkan secara terbatas oleh peternak terbatas (petani) sehingga berkembang menjadi peternakan rakyat. Jenis sapi yang dikembangkan merupakan jenis sapi asal Eropa yang memiliki karakteristik khusus, juga jenis Bos Bibos (banteng, seperti sapi Bali, sapi Madura) serta silangan langsung dari sapi India
Pola pemeliharaan pada peternakan rakyat di Indonesia, juga sangat bervariasi. Beberapa tujuan beternak :
1. Sebagai tabungan
2. Sebagai tanda status/gengsi
3. Sebagai usaha sampingan
4. Sebagai tanda budaya
5. Sebagai hobby
6. Sebagai usaha ternak terbatas
Berdasarkan hal ini, maka peternakan jenis ini memiliki model atau tataniaga yang berbeda dengan penjualan Brahman Cross, beberapa hal yang menjadi pertimbangan perbedaan model tataniaga :
1. Harga bukan didasarkan pada bobot badan. Kebanyakan harga akan didasarkan pada kondisi tubuh ternak/performance, sehingga timbul istilah penjualan model taksir (baca : jogrog)
2. Harga ditentukan oleh mekanisme tawar menawar yang sangat ketat dan dipengaruhi budaya masyarakat setempat. Misalnya menjelang tahun ajaran baru, harga sapi akan terkoreksi negatif cukup signifikan. Tetapi, saat panen tembakau, misalnya seperti di wilayah Temanggung, maka harga ternak dan komoditas lain menjadi terkoreksi positif cukup terasa
3. Jenis/kualitas daging, daging sapi jenis ini berbeda dengan sapi Brahman Cross. Kualitas serat yang melahirkan taste dan flavor berbeda menjadikan harga/kg daging sapi jenis ini sedikit lebih tinggi. Penggunaan daging jenis ini juga berbeda, daging sapi Bali, misalnya … sangat enak bila dibuat dendeng karena karakteristik seratnya, bila daging sapi BX, maka dendeng akan hancur (hanya menjadi bubur daging), juga bila dibuat abon atau baso
4. Kondisi khusus, misalnya ada peternak yang memiliki ternak sapi dengan tanda khusus atau berciri khusus atau berbobot badan khusus atau berpenampilan khusus, maka harga yang akan disepakati adalah harga yang sangat special. Tengok saat kontes ternak, sapi Brahman Cross dengan bobot 1.000 kg mungkin akan kalah menarik dengan Simmental yang berbobot 800 kg tetapi memiliki buku ikal yang kental, warna putih hanya ada pada muka, keempat kaki sebatas lutut kebawah dan sedikit dibawah tubuh serta surai ekor.

Berkaca dari kedua hal tersebut diatas, adalah sangat naïf manakala kita sebagai insan peternakan saling menghujat. Masing” peternak BX dan non BX memiliki alas an tersendiri dalam menjalankan usaha ternaknya.
Andaikan tataniaga daging dan manajemen usaha ternak sapi potong kita diatur oleh pemerintah dengan baik, misalnya grading daging, segmentasi pasar, edukasi kepada masyarakat tentang jenis dan kualitas daging, peningkatan daya beli masyarakat melalui peningkatan ekonomi rakyat, mengendalikan kemudahan impor ternak dan daging beku, bimbingan – latihan – arahan pelaksanaan breeding yang diatur sedemikian rupa, peningkatan kualitas pemeliharaan, teknologi pakan ternak dan reproduksi serta hal” yang berkenaan dengan usaha ternak sapi potong yang ideal, bukan tidak mungkin seluruh peternak Indonesia berada pada suatu wadah yang ideal, berada pada zona bisnis yang saling menguntungkan dan mampu mewujudkan cita” bersama … SWASEMBADA DAGING

SUMBER: ekabees