LAPORAN PROGRAM AKSI :
PENGEMBANGAN MODEL DESA KONSERVASI KEANEKARAGAMAN HAYATI
DI DESA TIMBANG JAYA
KECAMATAN BOHOROK – KABUPATEN LANGKAT
SUMATERA UTARA

November 2008

Desa konservasi adalah sebuah desa yang perikehidupan masyarakatnya mengacu pada upaya untuk melestarikan sumber daya alam dan mengembangkan kegiatan-kegiatan ekonomi yang berwawasan lingkungan. Di desa konservasi upaya memenuhi kebutuhan hidup/ekonomi mestinya seiring dan saling mendukung terhadap upaya konservasi keanekaragaman hayati. Atas dukungan OCSP-USAID Konsorsium FIELD-PEKAT-PARAS (selanjutnya disebut sebagai FP3) mengembangakan program ALIVE ( Action for Livelihoods & environment / aksi untuk perikehidupan dan lingkungan). Program ALIVE berupaya untuk membangun model desa konservasi di 3 desa di kabupaten langkat kecamatan Bohorok.

FP3 menerapkan pendekatan teknis yg langsung ke sasaran dengan berlandaskan metodologi yang teruji, dilaksanakan oleh staf yang berpengalaman di tingkat lapangan, dengan dukungan manajerial dan teknis yang mantap. Pendekatan ini menggabungkan Sekolah Lapangan Pelestarian Keanekaragaman Hayati (Biodiversity Conservation Farmer Field Schools), dengan penguatan modal sosial dan keuangan melalui penyelenggaraan Credit Union di tingkat masyarakat untuk mendukung penerapan kegiatan pelestarian keanekaragaman hayati. Secara bersama, kedua program yang mendasar ini membangun kapasitas masyarakat yng diperlukan dalam mengurangi ancaman terhadap habitat orangutan dan melestarikan keanekaragaman hayati secara berkelanjutan. Hasil akhir adalah model-model desa konservasi (di Nanggroe Aceh Darussalam dan Sumatra Utara) yang dapat diperbanyak dalam skala yang berarti dan mampu untuk mengurangi atau meminimalkan ancaman terhadap orangutan dan habitatnya. Program yang diusulkan akan membangun kapasitas masyarakat dan organisasi lokal disamping mengembangkan kebijakan dan kelembagaan yang mendukung. Di samping itu, pendekatan ini juga akan mendorong peran kunci perempuan dalam menstabilkan dan memperbaiki kondisi keluarga-keluarga rentan dan strategi perikehidupan masyarakat yang mendukung kegiatan pelestarian habitat, sebuah model yg sudah dikembangkan oleh ESP di Sumatra Utara.

Dalam upaya mendorong peningkatan kafasitas masyarakat dan kepeduliannya terhadap lingkungan. Team FP3 dikabupaten langkat yang bekerja di 3 desa, sejak bulan Juli 2008 sudah melakukan berbagai aktifitas bersama masyarakat desa Timbang Lawan, Timbang Jaya dan Sampe Raya. Di 3 desa ini FP3 mendorong terbangunnya kelompok CU ( Credit Union) dan Sekolah Lapangan Pelestarian Keanekaragaman Hayati (Biodiversity Conservation Farmer Field Schools). Sejak bulan Agustus – November 2008, kelompok Sekolah Lapangan Pelestarian Keanekaragaman Hayati sudah melakukan kajian terhadap perikehidupan masyarakat., dimana kegiatan ini menghasilkan rencana aksi konservasi dan peningkatan ekonomi yang selaras dengan upaya konservasi alam yang disusun oleh masyarakat sendiri. Memasuki bulan November ini masyarakat sudah mulai melaksanakan aksi-aksi konservasi di desa masing-masing.

Laporan ini berisi uraian proses dan kemajuan dalam pelaksanaan program ALIVE. Kiranya laporan ini nantinya akan dapat dijadikan bahan pembelajaran bersama dalam upaya mendorong terbangunnya metode yang paling tepat untuk mendorong partisifasi masyarakat desa dikawasan penyangga TNGL untuk ikut aktif menjaga, melindungi dan melestarikan kawasan hutan TNGL dan mengelola SDA desa secara berkelanjutan.

Timbang Jaya, 14 November 2008

Penulis

LAPORAN PROGRAM ALIVE :
PENGEMBANGAN MODEL DESA KONSERVASI KEANEKARAGAMAN HAYATI
DI DESA TIMBANG JAYA – KECAMATAN BOHOROK
KABUPATEN LANGKAT – SUMATERA UTARA

MEMILIH DESA SASARAN PROGRAM
Dalam memilih lokasi prioritas untuk implementasi program, kegiatan ini menggunakan metode Development Pathways. Metode ini merupakan perangkat teknis untuk perencanaan dan pengambilan keputusan yang menggunakan aplikasi GIS (Geographic Information System) untuk menganalisa data geospasial dengan tahapan pemilihan yang bertingkat, dari skala umum hingga skala detail.
Perbedaan Development Pathways dengan metode pemilihan lokasi yang lain adalah penggunaan konsep partisipatif dalam penentuan lokasi kerja. Metode ini melibatkan masyarakat dan pemerintah calon lokasi sasaran untuk bersama-sama menyusun dan mengembangkan berbagai kriteria pemilihan lokasi. Metode dan proses penentuan desa sasaran program ini dilakukan dengan tahapan proses Pemilihan Lokasi yang dimulai dari pemilihan kecamatan atau desa dari desa selanjutnya dipilih dusun-dusun yang akan menjadi titik masuk program, pemilihan dusun ini dilakukan dengan meminta saran dan masukan dari masyarakat setempat dan pemerintah desa.

GIS dikabupaten Langkat dilaksanakan pada tanggal 7-9 Juli 2008 yang dilakukan oleh Novaldi, dari kegiatan ini direkomendasikan tiga desa sebagai site program, yaitu ; Desa Timbang Lawan, Desa Timbang Jaya dan Desa Sampe Raya. Secara geografis ketiga desa ini berbatasan langsung dengan kawasan konservasi TNGL. Ketiga desa ini mempunyai bentangan alam yang relatif sama dan kebun masyarakat langsung berbatasan dengan kawasan konservasi TNGL. Kebun-kebun milik masyarakat berada dikawasan perbukitan yang menjadi habitat orangutan.

Pemilihan desa-desa ini didasarkan pada pertimbangan bahwa kebun-kebun milik masyarakat dan kawasan disekitar didesa-desa ini menjadi habitat orangutan. Desa-desa ini adalah desa yang penyangga kawasan konservasi TNGL. Karena kondisi tersebut, masyarakat desa ini selama bertahun-tahun berkonflik dengan OU yang selalu datang kekawasan kebun-kebun buah milik masyarakat. Hal lain yang juga menjadi pertimbangan adalah karena pentingnya keberadaan TNGL, dimana hutan diwilayah ini menjadi kawasan perlindungan berbagai flora dan fauna yang sudah langka. Kawasan TNGL ini juga merupakan cagar biosfer dunia yang dilindungi oleh UNESCO.

Sekitar tahun 2003 kawasan ini pernah ditimpa bencana banjir dandang Bohorok yang meluluh-lantakkan kawasan wisata Bukit Lawang merusakkan ekosistem desa akibat terjadinya pendangkalan persawahan, perubahan aliran sungai dan gundulnya kawasan bantaran sungai. Keberadaan OU dikebun-kebun milik masyarakat menjadi pertimbangan utama kenapa memilik 3 desa ini sebagai site program.

Hutan TNGL yang berdekatan dengan wilayah ini memiliki kontur perbukitan yang curam dan kondisi tanah yang mudah longsor. Rapat tumbuhan dan tutupan lahan dikawasan ini sangat penting untuk mengurangi terjadi erosi dan longsor. Ada 2 buah sungai yang sangat mempengaruhi kehidupan masyarakat desa ini dan puluhan desa dengan ribuan penduduk yang berada dibagian hilir. Konservasi di desa-desa ini sangat penting dan keberhasilannya akan berdampak sangat baik bagi kelestarian hutan dibagian hulu dan ketersediaan air bagi masyaakat desa disepanjang aliran sungai Bohorok.

GAMBARAN DESA TIMBANG JAYA
KECAMATAN BOHOROK – KABUPATEN LANGKAT

Desa timbang jaya adalah salah satu desa site program ALIVE yang berada di kecamatan Bahorok kabupaten Langkat. Desa ini dipilih menjadi salah satu site program ALIVE dikabupaten Langkat, dengan pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut:
1. Desa ini berbatasan langsung dengan wilayah TNGL, yang merupakan wilayah habitat orangutan dibagian Utara desa.
2. Kondisi wilayah desa ini merupakan bentangan wilayah perbukitan, perladangan tanaman keras, sungai-sungai, pemukiman dan persawahan.
3. Respon masyarakat dan pemerintah desa, khususnya Sekdes yang merupakan kontak person FA di desa ini cukup baik terhadap program ini.
4. Ada relasai kehidupan social dan ekonomi masyarakat yang cukup erat dengan keberadaan hutan yang merupakan habitat orangutan, yang hal ini tampak dari aktifitas ekonomi pertanian yang merupakan kegiatan ekonomi utama masyarakat desa ini yang membutuhkan air, dimana air ini dijamin keberadaannya sepanjang musim oleh wilayah hutan dan sungai dibagian hulu.
5. Mayoritas masyarakat juga masih memanfaatkan air sungai sebagai sumber air bersih untuk kebutuhan mencuci dan mandi.
6. Orangutan merupakan icon dari daerah bukit lawang, untuk mengundang turis berkunjung, dari kunjungan mereka banyak pihak memperoleh penghasilan tambahan.

Desa ini berpenduduk 3.272 Jiwa, dengan komposisi 1.413 Kali-laki, 1.859 Perempuan dan 768 KK. Yang mayoritasnya bekerja sebagai petani atau aktifitas pekerjaan yang berhubungan dengan usaha pertanian. Jlh RT yang memiliki lahan perkebunan 569 KK, tidak memiliki 199, keluarga yang memiliki kurang dari 0,5 Ha 185 KK, yang memiliki >0.5-1 Ha 125 KK dan yang memiliki > 1 Ha 60 KK.
Desa Timbang Jaya adalah desa pemekaran dari desa Timbang Lawan sejak 4 tahun lalu, yang dulunya merupakan dusun di desa Timbang Lawan. Desa ini berbatasan dengan TNGL dibagian utara desa ini, berjarak 8 KM dari ibukota kecamatan ( Bahorok ) dan berjarak 81 KM dari ibukota kabupaten langkat( Stabat) dengan kondisi jalan dapat dilalui dengan kendaraan roda empat. Luas desa ini 3.200 Ha yang terdiri dari persawahan irigasi 574 Ha, Tanah kering 410 Ha, Tanah Perkebunan ( kebun Campur dan monokultur milik warga) 1.762 Ha, lahan fasilitas umum 24 ha, hutan produksi 350 Ha.

Desa ini berbatasan dengan :
• Bagian Utara Berbatasan dengan TNGL.
• Dibagian barat berbatasan dengan desa sampe raya,
• Bagian timur berbatasan dengan desa Timbang Jaya
• Bagian selatan berbatasan dengan desa Sampe Raya. Jarak ke bahorok yang merupakan ibu kota kecamatan 8 KM, jarak ke Stabat ibukota kabupaten 81 KM.

Desa ini didiami oleh suku bangsa: Jawa 976 jiwa, Melayu 1608 Jiwa, Karo 673 jiwa, tapanuli 37 Jiwa, Minang 12 Jiwa. Dan kompisi menurut agama Islam 3.201 jiwa, Kristen 72 Jiwa.
Mata pencarian penduduk, petani 569 Jiwa, Buruh tani 83 jiwa, Buruh kebun 21 Jiwa, PNS 14 jiwa, Pengrajin 12 Jiwa, Pedagang 68 Jiwa, Montir 5 orang, penderes 520 jiwa.
Desa ini terdiri dari 5 wilayah dusun, masing-masing dusun di kepalai oleh seorang kepala dusun:
1. Dusun 1 Land Bau kadus Muliono
2. Dusun2 Perikanan kadus Paijan
3. Dusun 3 Gotong royong, kadus Syaiful Bahri
4. Dusun 4 Simpang Empat, kadus Anwar
5. Dusun 5 Suka Damai, Kadus Rahman
Desa ini dipimpin oleh kepala desa Bapak M. Samin PL, dan Sekdes, Tengku mardiyah, serta BPD yang diketuai oleh bapak Aminuddin.

Dengan struktur keorganisasian pemerintah desa sbb:

Bentang wilayah desa ini terdiri dari dataran, perbukitan dan lereng gunung. Dibagian lereng gunung dan perbukitan merupakan wilayah hutan desa dan perladangan tanaman keras. Dibagian dataran merupakan wilayah pemukiman dan lahan persawahan. Curah Hujan 450/500 Mm. Musim Penghujan 5 bulan, suhu rata-rata 30oC tempat tertinggi 120 mdl,. Ada 2 sungai yang membentang melintasi desa ini, yaitu sungai Landak dan Sungai Bahorok.

Desa ini mempunyai hutan adat seluas 10 Ha dan hutan dalam penguasaan perhutani 360 Ha. Hasil hutan yang umumnya dimanfaatkan warga adalah, Kayu dengan produksi pertahun 4.000 M3 per tahun, kayu yang duimaksud disini adalah kayu durian, dimana dari tahun ke tahun jumlah penebangan kayu durian semakin banyak. Kebanyakan warga menjual kayu durian karena harganya yang lumayan tinggi, berkisar antara Rp. 1.000.000- 5.000.000 per pohon menurut kondisi pohonnya, jenis lain yang juga diambil warga adalah bamboo dengan perkiraan produksi 25.000 Btg per tahun, warga umumnya menjual bamboo kepada medan dan binjai sebagai bahan baku pembuatan keranjang, kursi, tepas dan kerajian keranjang.

Perkebunan Milik Rakyat
Desa ini mempunyai lahan perkebunan rakyat yang cukup luas, yang merupakan model kebun campur, terdiri dari tanaman buah-buahan seperti; durian, manggis, jengkol, petai, langsat, duku dan asam glugur, pinang, pisang dan bamboo. Akhir-akhir ini, banyak warga yang mengalih fungsikan kebun campurnya dan lahan persawahannya menjadi kebuh kelapa sawit, pada tahun 2007 luas kebun kelapa sawit sudah 30 Ha. Belum dapat secara pasti diperkirakan kecenderungan perubahan kebun campur dan sawah yang dialih fungsikan menjadi kebun mono kultur, tetapi dari kegiatan observasi beberapa kali dilapangan, aktifitas seperti ini terus berlangsung dan animo masyarakat untuk mengalih fungsikan kebun campur mereka menjadi kebun kelapa sawit cukup besar, karena kebun sawit dianggap lebih memberikan keuntungan bagi mereka untuk saat ini.

Dalam hal lahan persawahan yang dialihkan menjadi kebun kelapa sawit, hal ini disebabkan oleh terganggunya saluran irigasi dan meningkatnya serangan hama tanaman padi seperti ; tikus, hama penggerek batang dan burung. Pola konversi yang umumnya terjadi adalah, lahan persawahan yang tidak memperoleh penjatahan air ditanami dengan tanaman jagung, aktifitas ini selanjutnya membuka kesempatan untuk menanami lahan persawahan tersebut dengan tanaman kelapa sawit.

Berikut ini data luas kebun menurut komoditas dan hasil produksi
Jenis Komoditas Luas
( Ha) Hasil ( Kwintal/Ha)
Kelapa 40 400
Kelapa Sawit 30 1200
Coklat 80 600
Pinang 40 5000
Karet 1400 400
( data diambil dari pemerintah desa T . jaya)

Data warga yang mempunyai dan tidak mempunyai lahan
Tidak Memiliki Tanah 206
Total Memiliki tanah 572

Pemilik Tanah, terdiri atas:
Kriteria Luas Penguasan
( Ha) Jlh jiwa
0,1 97
0,1 – 0,2 57
0,21-0,3 53
0,31-0,4 42
0,41-0,5 42
0,51-0,6 39
0,01-0,7 43
0,71-0,8 32
0,81-09 52
0,91-1,0 57
>1 58
Jumlah 572

Potensi irigasi di desa sebenarnya cukup besar karena air tetap tersedia sepanjang tahun, adanya lahan persawahan yang tidak memperoleh air disebabkan oleh rusaknya saluran irigasi yang menurut keterangan pemerintah desa mencapai 40% dari total irigasi, meskipun pemerintah desa tidak dapat menyebutkan angka pasti berapa panjang saluran irigasi yang rusak. Dalam hal ketersediaan air untuk irigasi sungai menurut pemdes sungai bahorok dan sungai Landak menyediakan air dengan debit 1,2 M3/detik yang semestinya cukup untuk mengairi seluruh lahan pertanian yang ada.

Dalam hal perolehan air bersih. Warga umumnya menggunakan air yang berasal dari sumur gali diperkirakan ada sebanyak 768 KK yang menggunakan sumur gali dan hanya 200 KK yang menggunakan air sungai, sungai di desa ini ada 2 buah, yaitu sungai Bahorok dan Sungai Landak, kondisi kedua sungai ini sudah tercemar oleh limbah rumah tangga dan limbah pertanian.

Usaha lain yang umumnya dilakukan warga adalah budidaya ikan empang/kolam dan kerambah, menurut pemdes ada keramba 40 Unit dengan produksi 1,2 ton per tahun. Empang/kolam seluas 140 Ha dengan produksi 800 ton pertahun. Jenis ikan yang umumnya dibudidayakan warga dengan urutan dari yang paling banyak adalah; ikan Mas, Mujair, Nila , Jurung dan lele.

Kelembagaan :
• Organisasi PPK,
• Organisasi Pemuda; Remaja Masjid
• Kelompom Tani; 4 kelompok Tani
• Organisasi Perwiridan 14 Kelompok
• LPMD

Kelembagaan ekonomi
• Koperasi 1 unit
• Kelompok simpan pinjam1 unit

Lembaga Pendidikan
• Tk 2 Unit
• SD 2 Unit
• SLTP 1 unit

Lembaga Adat:
1. Pujakesuma  jawa
2. Keluarga Silima  karo

Akses warga terhadap Tanah
1. Tidak memiliki tanah 206 KK
2. total memiliki tanah 562 KK

Mata pecarian
1. Buruh Tani 30 orang
2. Petani 562 orang
3. Pedang/wiraswasta 26 orang
4. PNS 4 orang
5. Pengrajin 12 orang
6. penjahit 5 orang
7. Montir 5 orang
8. pramuwisata 32 orang
9. karyawan swasta 20 orang
10. tukang kayu 8 orang
11. guru 5 orang

Persoalan-persoalan
1. Ancaman Perambahan Hutan
Ancaman perambahan hutan sangat dimungkinkan oleh banyak factor, diantaranya;
1. Tidak ada batas yang jelas antara hutan wilayah TNGL dengan hutan ulayat dan kebun campur masyarakat.
2. Pertambahan jumlah penduduk dan meningkatnya kebutuhan lahan pertanian.
3. Hutan dianggap sebagai tempat tinggalnya hama pertanian ( burung , tikus dan monyet).

2. Konversi Kebun Campur menjadi Monokultur
Konversi kebun campur menjadi kebun monokultur kian marak dilakukan, asumsi sementara hal ini dilakukan karena kebun campur dianggap kurang produktif dibanding kebun monokultur, jenis tanaman monokultur adalah rambung, coklat dan kelapa sawit. Kondisi ini kemungkinan juga dipicu oleh berkurangnya buah yang dihasilkan dari tanaman durian, jengkol, petai, duku, langsat milik warga, dimana bunga seringkali tidak jadi karena berkurangnya penyerbukan dan rontok muda karena angina kencang.
Pada tahun-tahun terakhir, banyak warga yang menjual pohon tanaman buahnya karena dianggap kurang menghasilkan, lahan yang semula merupakan kebun campur buah-buahan kemudian diubah menjadi kebun rambung, coklat dan kelapa sawit.

Tidak diperoleh angka pasti luas lahan kebun campur yang dikonversi pertahunnya menjadi kebun monokultur, tetapi aktifitas seperti ini terus bertambah karena petani tergiur dengan keuntungan yang sudah teropinikan bahwa bercocok tanam kelapa sawit itu sangat menguntungkan.

3. Kerusakan Saluran Irigasi
saluran irigasi yang sebelumnya cukup efektif mengairi lahan perswahan saat ini kondisinya rusak, sehingga arus terganggu dan sebagian lahan persawahan tidak mendapat air, Pemda sebenarnya sudah melakukan upaya perbaikan tetapi tidak selurunya rampung, warga sendiri belum melakukan upaya apapun untuk memperbaiki saluran irigasi yang rusak. Kurangnya keswadayaan masyarakat untuk memperbaiki saluran irigasi ini disebabkan oleh banyak factor, ada yang menganggap bahwa saluran irigasi ini adalah tanggungjawab pemerintah untuk memperbaiki dan hal yang paling mendasar yang menyebabkan tidak adanya upaya untuk berswadaya memperbaiki saluran irigasi ini adalah melunturnya kebersamaan dan kegotongroyongan dikalangan masyarakat.
Setelah saluran irigasi ini rusak, sebagian besar warga yang lahnnya tidak memperoleh air bersih memanfaatkan lahannya untuk bercocok tanam jagung, ada juga yang langsung menanami lahannya dengan tanaman keras seperti rambung dan kelapa sawit atau pohon mahoni. Kondisi ini dikeluhkan oleh warga yang sampai saat ini tatap berusaha menanam padi, karena menurut mereka kegiatan penanaman tanaman keras dilahan perswahan tersebut menyebabkan berkembangnya hama tikus dan burung.

DATA SARANA IRIGASI MENURUT PEMERINTAH DESA
1. JUMLAH
Panjang saluran primer 1000
Panjang saluran sekunder 10.000
Panjang saluran tersier 10.000
Jumlah pintu sedap 1
Jumlah pintu pembagi 14

2.KONDISI
Panjang saluran primer 500
Panjang saluran sekunder 2000
Panjang saluran tersier 7000
Jumlah pintu sedap –
Jumlah pintu pembagi 8

4. Ketergantungan kepada produk kimiawi dalam usaha pertanian
Petani sangat mengeluhkan mahalnya harga pupuk karena petani sangat bergantung kepada berbagai produk kimia dalam usaha pertaniannya. Sebenarnya sudah da pihak-pihak yang melakukan upaya penyadaran untuk mengembangkan model pertanian organic, beberapa warga juga mengaku bahwa PPLH Bahorok berani menampung beras organic petani seharga Rp. 5.000 per Kg. hanya saja petani belum menyambut baik tawaran tersebut.

Ada beberapa factor yang mempengaruhi kenapa petani tidak menyambut tawaran tersebut, diantaranya:
1. Adanya opini bahwa model pertanian organic itu repot dan mereka tidak punya pengetahuan dan kesadaran yang cukup sehingga dapat menggerakan mereka melakukan usaha pertanian organic.
2. Tidak cukup upaya dari berbagai pihak untuk menguatkan kesadaran dan komitment dalam melakukan usaha pertanian organic.
3. Petani tidak memahami bagaimana membuat pupuk kompos pengganti pupuk kimia dan obat pengendalian hama serangga alami. Jika data pemerintah desa memang benar, sebenarnya di desa ini tersedia bahan baku pembuatan kompos berupa kotoran ternak yang terdiri dari 140 ekor kambing, sapi 40 ekor dan kerbau 20 ekor. Meskipun jumlah ternak yang ada tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan pupuk kompois seluruh desa, tetapi jumlah ini sesungguhnya cukup untuk memulai gerakan pengalihan pupuk kimia dengan pupuk kompos.
4. Tidak berfungsi kelembagaan petani dan kelompok tani.
Salah satu indicator yang tampak adalah dalam bagan pemerintah desa ada pamong Tani yang memang tidak ada orangnya. Di desa ini ada 4 kelompok tani tetapi kesemuanya tidak berfungsi, petani umumnya mengeluhkan pola tanam yang tidak serentak, tetapi sampai saat ini belum ada upaya untuk membuat agar pola tanam serempak untuk mengurangi serangan hama.
5. Hama Pertanian
Pada Tanaman Pisang
Menurut warga ada fenemonea yang terjadi setelah banjir bandang, dimana tanaman pisang diserang hama busuk dalam dan tidak mau masak. Mereka menyebutnya sebagai serangan virus yang hanya menyerang tanaman pisang. Jenis pisang yang diserang adalah jenis pisang kepok. Serangan hama mereka rasakan terjadi setelah banjir bandang.

Pada tanaman Durian
Hal lain yang juga terjadi adalah perubahan rasa durian yang pohonnya tumbuh dekat dengan sungai, dimana setelah banjir bandang durian ini rasanya menjadi dingin ( rasa buahnya seperti durian yang kulitnya sudah terbuka seharian)

Pada Tanaman Padi
Serangan hama burung dan tikus menjadi sangat mempengaruhi setelah banjir bandang, warga menduga hal ini terjadi karena banyak warga yang tidak lagi menanami sawahnya dengan tanaman padi dan mengubah sawah menjadi kebun kelapa sawit, karet dan tanaman kayu, dimana hal ini mereka asumsikan sebagai penyebab berkembangbiaknya hama tikus dan burung. Hal lain yang juga menjadi persoalan adalah waktu tanam yang tidak lagi bisa serempak oleh para petani, sehingga menyebabkan tingginya angka gangguan hama tikus dan burung.

6. Usaha Perikanan
Dilihat dari kondisi permukaan tanah wilayah ini sangat potensial untuk dikembangkan sebagai wilayah budidaya ikan air tawar. Hanya saja usaha seperti ini masih belum maksimal, beberapa warga hanya melakukan usaha untuk untuk usaha sampingan dan sekedar memenuhi kebutuhan gizi keluarga. Banyak sekali kolam-kolam warga yang kosong dan tidak dimanfaatkan.

7. Dukungan Pemda
Menurut warga sebelumnya dinas pertanian mempunyai kegiatan yang lumayan intensif di desa ini, dinas juga mempunyai petugas yang mengatur saluran irigasi. Saat ini petugas pengatur air ini dirasakan kurang menjalankan fungsinya dan warga juga tidak tahu siapa yang saat ini bertugas untuk mengatur air.
Pola pembinaan yang kurang dari pemda juga terlihat dari tidak adanya kegiatan pembinaan kepada kelompok tani, ketua-ketua kelompok tani yang ditemui mengaku bahwa sudah beberapa tahun ini kelompok tani tidak mempunyai kegiatan apa-apa, bahkan mereka juga tidak lagi mengetahui siapa PPl yang bertugas di desa mereka.

Hal-hal Positif yang berhubungan dengan isyu orangutan
1. Isyu orangutan adalah jualan masyarakat disekitar bukit lawang untuk mengundang kehadiran turis di daerah ini
2. Masyarakat memahami adanya sanksi hokum terhadap kegiatan yang menangkap, membunuh dan memperdagangkan orangutan, hanya saja kesadaran bahwa orangutan butuh tempat hidup untuk hidup dan berkembangbiak masih belum terbangun. Dalam kata lain; Mereka faham bahwa orangutan punya hak hidup dan wajib dilindungi, tetapi kepedulian melindungi habitatnya masih belum terbangun.
3. Warga yang dirinya atau keluarganya menjadi korban banjir bandang sangat menyadari bahwa bajir bandang berhubungan erat dengan kegiatan illegal logging. Kepedihan yang mereka alami selama banjir bandang menyebabkan mereka sadar untuk tidak melakukan kegiatan illegal logging dan marah kepada mereka yang melakukan kegiatan illegal logging. Tetapi kesadaran itu belum tampak pada upaya-upaya dan aksi untuk mencegah kegiatan illegal logging secara bersama-sama.

AKTIFITAS ALIVE:
MENDORONG TERBENTUKNYA KELOMPOK CREDIT UNION

Pada bulan Juli 2008, FA ALIVE di desa Timbang Jaya melakukan upaya pengorganisasian masyarakat dan mendorong terbentuknya kelompok Usaha Bersama Simpan Pinja/ Credit Union ( CU). Dari kegiatan CU ini diharapkan akan meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat bahwa tentang CU dan manfaat CU bagi mereka dalam upaya mengatasi persoalan kesulitan modal usaha. Dari kegiatan CU yang didasari oleh nilai-nilai kepercayaan, keterbukaan dan kebersamaan, dapat dipercaya dan bertanggungjawab diharapkan akan dapat menguatkan modal sosial dikalangan masyarakat. Dalam kelompok CU diharapkan akan dapat mengatasi persoalan kesulitan modal usaha serta mendorong adanya usaha-usaha yang bernilai konservasi yang dilakukan oleh masyarakat yang didukung oleh tersedianya modal usaha dikelompok CU.
MATERI MOTIVASI MENABUNG
Berapa sesungguhnya kemampuan anda Menabung
1. Mengelola jimpitan beras = Rp. 15.000,-
2. Memanfaatkan pekarangan dengan menanam sayuran dan mengalihkan jenis pengeluaran rumah tangga yang bisa ditanam sendiri untuk ditabung. = Rp. 50.000,-
3. Menyisihkan hasil penjualan karet sebanyak 1 Kg, setiap kali saat timbang getah. Dalam sebulan Rp. 50.000,-
4. Mengembangkan usaha ternak kecil; Ayam, bebek, Entok; penghasilan per bulan Rp. 20.000,-
5. Membuat kolam ikan dan memelihara ikan, penghasilan per bulan =Rp. 50.000,-
6. Menanam pisang dilahan kosong per bulan sebanyak 10 rumpun, penghasilan per bulan = 100.000,-

Jumlah pendapatan tambahan anda per bulan : Rp. 285.000,-

Mengembangkan usaha Pembibitan:
1. Membuat bibit tanaman keras 10 bibit per bulan
10 btg x Rp. 15.000,- = Rp. 150.000,-

Dalam 5 tahun kelompok sudah punya modal Rp. 118.000.000,-, jika anda mau menabung sebesar Rp 50.000,- per bulan.

Dengan 20 orang anggota simpanan anggota perbulan Rp. 50.000,-
Maka simpanan per anggota Rp. 50.000 x 12 bln = Rp. 600.000,-
Dengan 20 orang anggota, maka kelompok anda dalam setahun sudah mempunyai saham kelompok Rp 12.000.000,-
Tahun V 96.000.000,- + Pendapatan dari Jasa 22.000.000 = 118.000.000
Tahun IV 48.000.000,- + Pendapatan dari Jasa 14.000.000 = 62.000.000
Tahun III 36.000.000,- + Pendapatan dari Jasa 9.000.000 = 45.000.000
Tahun II 24.000.000,- + Pendapatan dari Jasa 6.000.000 = 30.000.000
Tahun I 12.000.000,- + Pendapatan dari Jasa 2.500.000 = 14.500.000,-

Dengan modal sejumlah ini anggota kelompok masing-masing sudah bisa memperoleh pinjaman sebanyak rp. 8-12 Juta per orang.
Dengan modal sejumlah ini, apa yang akan anda lakukan?…..

Pengorganisasian ini dilaksanakan oleh FA dan Pemandu di masing-masing desa. Sampai akhir bulan Juli 2008, sudah terbentuk 2 kelompok di setiap desa dikabupaten langkat yang menjalankan kegiatan Credit Union ( CU).

MATERI SOSIALISASI
PROGRAM ALIVE

1. MEMBANGUN KESADARAN KRITIS BAHWA KITA MAMPUMENABUNG

Kelompok-kelompok yang terbentuk sebagaimana berikut ini:

Kelompok-kelompok CU yang terbentuk di desa Timbang Jaya
 Kelompok UBSP Bunga Seroja
Kelompok ini diketuai oleh Ibu Rohani, Sekretaris Fatmawati dan Bendahara hamidah, kelompok ini menrapkan aturan main kelompok sebagai berikut:
 Uang Pangkal : Rp. 5.000,-
 Simpanan Pokok : Rp. 10.000,-
 Simpanan Wajib : Rp. 5.000,-
 Simpanan Sisuka : kelipatan Rp. 1.000,-
 Jasa Pinjaman : 3 % dari sisa pinjaman.
 Jasa Pelayanan : 2 % dari jumlah pinjaman
 Lama Pinjaman : 4 Bulan
 Denda : 5 % dari sisa pinjaman

No Nama JK No Nama JK
1 Rohani P 11 Asmawati P
2 Fatmawati P 12 Aslah P
3 Hamidah P 13 Rismayani P
4 Sarinah P 14 Siti Khadijah P
5 Rasimah P 15 Nur Hamidah P
6 Reni Rianty P 16 Afidah P
7 Khairul Bariyah P
8 Mahyudar P
9 Nur Hamidah P
10 Safiyah P

 Kelompok UBSP Jaya Maju
Kelompok ini diketuai oleh Ibu Rohani, Sekretaris Fatmawati dan Bendahara hamidah, kelompok ini menrapkan aturan main kelompok sebagai berikut:
 Uang Pangkal : Rp. 5.000,-
 Simpanan Pokok : Rp. 20.000,-
 Simpanan Wajib : Rp. 10.000,-
 Simpanan Sisuka : kelipatan Rp. 1.000,-
 Jasa Pinjaman : 3 % dari sisa pinjaman.
 Jasa Pelayanan : 2 % dari jumlah pinjaman
 Lama Pinjaman : 4 Bulan
 Denda : 5 % dari sisa pinjaman

No Nama JK No Nama JK
1 Wayan Dadu L 11 Dian L
2 Syaiful Ricky L 12 Suriyadi L
3 Abd Rahman L 13 Mahyal Aini P
4 Abdullah L 14 Murad L
5 Aidil Asri L
6 Mahlian L
7 M. Daud L
8 Umar Effendi L
9 Aslim L
10 Ibrahim L

PEMBENTUKAN TIM SLA
(SUSTAINABLE LIVELIHOOD ASSESSMENT/SLA)
DI DESA TIMBANG JAYA KECAMATAN BOHOROK KABUPATEN LANGKAT
SEKOLAH LAPANGAN adalah serangkaian kegiatan pengkajian perikehidupan/SLA ( Sustainable Livelihoods Asessment) dan Aksi Rintisan. Kegiatan ini melibatkan 30 orang peserta, ditambah dengan Asisten Lapangan dan 2 orang Pemandu Desa. SLA ini bertujuan untuk memfasilitasi masyarakat melakukan kajian di desanya terkait dengan kebutuhan dan masalah konservasi habitat orangutan dan peningkatan ekonomi masyarakat. Dari kegiatan ini diharapkan masyarakat dapat lebih memahami potensi & permasalahan yang terjadi didesanya, untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman masyarakat terhadap ekosistem desanya dilakukan melalui survei lapangan, menggambar, menganalisa, tukar pengalaman, dialog, diskusi dan presentasi. Topik yang dibahas meliputi; Modul SLA, perencanaan, konservasi, dan ancaman terhadap habitat orangutan. Kegiatan ini dilaksanakan sejak bulan Agustus sampai bulan seftember 2008. Memasuki bulan November 2008, TIM SLA ini sudah berhasil menyusun rencana aksi konservasi dan peningkatan ekonomi yang merupakan hasil akhir dari kegiatan SLA.
PEMBENTUKAN TIM SL DESA TIMBANG JAYA
Pembentukan tim SLA desa Timbang Jaya dilaksanakan pada tanggal 13 Agustus 2008. dilaksanakan di posko ALIVE Desa Timbang Jaya. Dalam sosialisasi ini peserta yang hadir terdiri dari perwakilan anggota kelompok CU Jaya Maju dan Kelompok CU Seroja yang beralamat didesa Timbang Jaya serta peserta dari masyarakat diluar kelompok CU. Kegiatan sosialisasi ini diikuti oleh 30 orang peserta.
Dalam sosialisasi ini dipaparkan tentang, siapa ALIVE dan apa kegiatan yang akan dilakukan ALIVE bersama masyarakat. Field Asisstance menjelaskan bahwa ALIVE adalah sebuah program yang diusung oleh konsorsium yang terdiri dari 3 lembaga, Field, Pekat & Paras. ALIVE sendiri adalah singkatan dari Action for livelihoods and environment atau aksi untuk perikehidupan dan lingkungan. ALIVE nantinya akan memfasilitasi masyarakat desa Timbang Jaya untuk melaksanakan pengkajian perikehidupan yang berkelanjutan yang hasil akhir dari SLA adalah sebuah rencana aksi konservasi dan peningkatan ekonomi desa Timbang Jaya. Selanjutnya FA mempersilahkan peserta yang hadir menyampaikan pertanyaan berkenaan informasi yang dipaparkan FA atau hal lain yang menyangkut tentang apa dan siapa itu ALIVE. Salah seorang peserta bapak Saiful menanyakan apa manfaat kegiatan itu nantinya bagi masyarakat? FA menjelaskan bahwa kegiatan ini nantinya akan membantu masyarakat untuk mengenali potensi dan permasalahan desanya , lalu akan menyusun rencana aksi untuk mengelola potensi yang dimiliki secara berkelanjutan dan menyusun rencana untuk memecahkan persoalan yang dialami serta menggalang dukungan untuk dapat mengelola potensiyang dimiliki dan memecahkan masalah yang dihadapi.

Setelah maksud dan tujuan dari ALIVE dan kegiatan SLA difahami peserta FA menawarkan kepada peserta untuk membentuk anggota tim SLA sebanyak 30 orang dan menyusun jadwal kegiatan SLA yang akan dilaksanakan didesanya.
Berikut ini adalah daftar peserta SLA desa Timbang Jaya;
PESERTA SL TIMBANG JAYA

No Nama JK No Nama JK No Nama JK
1 Rohani P 11 Asmawati P 21 Mahlian L
2 Fatmawati P 12 Aslah P 22 M. Daud L
3 Hamidah P 13 Rismayani P 23 Umar Effendi L
4 Sarinah P 14 Siti Khadijah P 24 Aslim L
5 Rasimah P 15 Nur Hamidah P 25 Ibrahim L
6 Reni Rianty P 16 Wayan Dadu L 26 Dian L
7 Khairul Bariyah P 17 Syaiful Ricky L 27 Suriyadi L
8 Mahyudar P 18 Abd Rahman L 28 Mahyal Aini P
9 Nur Hamidah P 19 Abdullah L 29 Murad L
10 Safiyah P 20 Aidil Asri L 30 Afidah P

Keangotaan SLA ini terdiri dari anggota kelompok CU Bunga Seroja dan Jaya Maju serta masyarakat dari luar kelompok CU. Dari kelompok ini disusun kepanitiaan kelompok CU, yang teridri dari Ketua: Abdullah, Sekretaris : Fatmawati dan Bendahara : Hamidah.

Setelah terbentuk kelompok SLA, selanjutnya disepakati untuk menyusun jadwal pelaksanaan SLA desa Timbang Jaya

JADWAL KEGIATAN SLA
DESA TIMBANG JAYA

No Kegiatan Tanggal Pelaksanaan
1 Pengorganisasian 13-08-2008
2 Pemahaman ekosistem Desa 16-08-2008
3 Menggambar Peta Desa 17-09-2008
4 Memoto Masalah & Potensi Desa 18-25 Agust 2008
5 Presentasi Photo 26-09-2008
6 Transek 28 Agust-1 Seft 2008
7 Menyimpulkan Data & Informasi Penting dari Transek 2 Seft 2008
8 Kalender Musim 6 Seft 2008
9 Analisa Kecendrungan 6 Seft 2008
10 Analisa Kelembagaan 6 Seft 2008
11 Analisa 5 Modal 7 Seft 2008
12 Mengkerangkakan Data & Informasi Hasil SLA 8 Seft 2008
13 Jembatan Bambu 9 Seft 2008
14 Membuat Peta Desa Impian 14-16 Seft 2008

KEGIATAN PENGKAJIAN PERIKEHIDUPAN BERKELANJUTAN
SUSTAINABLE LIVELIHOODS ASESSMENT ( SLA)
DI DESA TIMBANG JAYA

PEMAHAMAN EKOSISTEM DESA DI DESA TIMBANG JAYA
Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman masyarakat tentang hubungan kehidupannya dengan lingkungannya, titik masuk untuk membangun pemahaman peserta dilakukan melalui identifikasi jenis kebutuhan/ apa yang ia ambil dan butuhkan dari alam untuk kehidupannya. Dari kegiatan ini peserta mengetahui apa-apa saja yang ia ambil dan yang ia butuhkan dari alam untuk kehidupannya dan apa akibat yang terjadi jika salah satu komponen ekosistem desa itu hilang, dimana hal itu akan berdampak pada terganggunya keseimbanan ekosistem desa dan selanjutnya akan mengancam kehidupan mereka dan sumber kehidupan mereka. Selanjutnya peserta SLA dari masing-masing desa membuat peta desa untuk menggambarkan tempat-tempat penghasil kebutuhan mereka, seperti hutan, kebun, sungai, persawahan dan pemukiman serta sarana umum yang ada di desa mereka.

Kegiatan pemahaman ekosistem desa dan pembuatan peta desa dilaksanakan pada tanggal 16 Agustus 2008 diposko ALIVE di desa Timbang Jaya. Kegiatan in diikuti oleh 28 Peserta SLA.
Gambaran Proses
Sesuai jadwal yang telah disepakati peserta SL berkumpul ditempat yang telah disepakati, FA membuka acara dan menjelaskan maksud pertemuan hari ini dan menjelaskan apa apa yang akan dilakukan dalam pertemuan ini.
Mengawali kajian, FA menanyakan apa sudah ada yang tahu apa itu ekosistem ? Apa yang kita ambil dari ekosistem desa kita untuk memenuhi kebutuhan kita. Dimana dihasilkan? Apa yang mempengaruhi ketersediaan kebutuhan kita tetap ada? Kegiatan ini dilaksanakan dengan metode curah pendapat, masing-masing peserta menyampaikan apa yang diketahuinya dan pemandu mencatat seluruh pendapat peserta dikertas plano.
Saat FA menanyakan “apa itu ekosistem?”. Peserta memberikan jawaban “ekosistem itu lingkungan” , “ ekosistem itu bagian-bagian lingkungan yang satu dengan yang lain saling berhubungan”. Selanjutnya FA melanjutkan pertanyaan “ apa saja yang kita ambil dari lingkungan kita” peserta menjawab ; padi, udara, air, bahan bangunan seperti; kayu, bamboo, pasir batu koral, kerikil, dauan nipah untuk atap buah-buahan seperti; durian, pisang, duku, manggis, mangga, ikan, daging, telur, getah dan tanaman obat.
FA menanyakan dimanakan masing-masing jenis kebutuhan itu dihasilkan, kemudian peserta menjawab; dihutan, kebun, sungai, sawah dan pemukiman. Selanjutnya FA menghubungkan setiap unsur yang dibutuhkan yang sudah dituliskan dalam kertas plano dengan membuat paha penghubung, agar difahami dimana kebutuhan-kebutuhan itu dihasilkan.
FA meminta peserta untuk menggambarkan peta desa dengan seluruh bagian ekosistem desa yang menghasilakan berbagai kebutuhan hidup masyarakat. Selama proses menggambar peta terjadi dialog, saling menyampaikan pendapat dan berargumen. Hal-hal yang menjadi perdebatan tajam adalah mengenai jalur sungai, lebarnya sungai, batas desa dengan desa lain, jenis tanaman yang dibudidayakan dikebun-kebun masyarakat dan sawah-sawah yang berubah fungsi menjadi kebun dan tentang warna untuk tiap bagian lokasi desa. Proses pembuatan peta menjadi kegiatan yang seru, dari kegiatan ini masyarakat dapat saling belajar dan saling mengungkapkan apa yang ia fahami tentang ekosistem desanya dan persoalan yang terjadi pada tiap bagian ekosistem desanya.

Setelah gambar peta rampung dikerjakan, peta tersebut kemudian dibentangkan didinding peserta diminta untuk melihat kembali peta yang mereka buat, dan pemandu menanyakan “apa yang dirasakan pada saat menggambar peta tadi”, “apa kesulitan yang dialami ketika menggambar peta” , “ dan “ Apa yang dirasakan setelah peta berhasil diselesaikan”. Masing-masing peserta mengungkapkan pendapatnya, kesulitan yang dirasakan dan perasaannya setelah berhasil membuat peta umumnya peserta merasa bangga karena mereka ternyata mampu membuat peta desanya sendiri dan mereka menjadi merasa lebih mengenal ekosistem desanya sendiri disbanding sebelumnya, karena selama proses menggambar peta ini, masing-masing peserta mengungkapkan apa yang ia fahami sehingga banyak sekali informasi dan pengetahuan yang saling mereka pertukarkan sehingga cakrawala berpikir peserta tentang desanya semakin luas. Pemandu selanjutnya mengajak peserta untuk kembali mengamati peta yang baru saja mereka buat dan menanyakan kepada peserta, “ apa yang terjadi jika salah satu bagian ekosistem desa hilang” “ Misalkan jika hutan sudah tidak ada lagi apa yang akan terjadi?” peserta spontan menjawab “ ya Tidak ada air lagi :, “akan sering banjir”, “ akan terjadi tanah longsor”.
Sebelum acara ini ditutup, pemandu menanyakan perlukan kita memotret bagian dari ekosistem desa yang tadi kita bicarakan selama kegiatan kita memahami ekosistem desa dan membuat peta desa. Pemandu menjelaskan bahwa tujuan pengambilan potret ini adalah agar kita bisa melihat dengan jelas dan menunjukkan kepada orang lain apa-apa yang kita anggap sebagai potensi dan permasalahan yang ada di desa, dengan cara itu kita akan lebih mengenal dan memahami desa kita, baik potensi maupun masalah yang ada.
Setelah peserta memberikan persetujuan kemudian disepakati jadwal pelaksanaan memotret potensi dan permaslahan desa. Pemandu kemudian menanyakan kepada peserta SL apa minat masing-masing peserta, dan mengkelompokkannya kedalam 5 stop, yaitu; hutan, kebun, sungai, persawahan dan pemukiman. Pembagian tim ini diodasarkan atas minat masing-masing peserta pada bagian-bagian ekosistem desanya. Sehingga kelompok SL masing-masing desa terbentuk 6 tim kecil untuk melakukan kegiatan memotret potensi dan permasalahan desa. Tim kecil pemotretan yang terbentuk terdiri dari; Tim Hutan yang yang terbentuk adalah Berikut adalah kesepakatan waktu pelaksanaan memotret potensi dan permasalahan desa :

Kegiatan ini bertujuan untuk menggali subyektifitas peserta terhadap hal-hal yang terkait dengan permasalahan desa dan keanekaragaman hayati. Melalui kegiatan ini 30 orang peserta SLA dapat teridentifikasi minat, perhatian dan keprihatinannya terhadap kondisi ekosistem desanya. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini adalah praktek menggunakan kamera, terjun ke lapangan untuk pengambilan foto, selanjutnya setelah selesai pengambilan poto tim SL bergiliran mempresentasikan photo-photo yang diambilnya, selanjutnya peserta melakukan diskusi kelompok untuk menyusun photo-photo yang sudah dicetak dalam beberapa kategori.
Sesuai jadwal yang disepakati tim SLA masing-masing desa melaksanakan kegiatan memoto, sebelumnya kelompok ini lebih dahulu belajar menggunakan kamera digital. Pemandu menjelaskan fungsi tombol-tombol pada kamera digital dan cara menggantikan batre kamera. Masing-masing kecil secara bersama-sama menuju lokasi memoto. Masing-masing peserta diminta mengambil 6 objek poto. Objek yang dipoto bisa berupaya potensi atau masalah yang ada didesanya. Tiap peserta dalam secara bebas mengambil objek yang akan dipoto tanpa boleh dipengaruhi oleh pihak lain.

Setelah selesai melakukan kegiatan memotret, peserta kembali berkumpul, selanjutnya pemandu meminta agar satu persatu peserta SLA mengenai “ Apa yang dipotret”, “ kenapa ia memotret objek itu”, “ ada berapa banyak hal seperti itu didesanya” dan ”apa yang akan ia lakukan berekenaan dengan situasi yang ia potret”. Hal menarik dari kegiatan ini, terjadi proses saling memberikan informasi antar peserta. Masing-masing peserta menjelaskan 6 poto yang diambilnya kepada peserta lain dan dari proses ini peserta semakin banyak mengenal kondisi lingkungannya dan informasi tentang bagaimana kondisi lingkungan tersebut menjadikan peserta semakin memahami apa yang terjadi pada lingkungan desanya. Dari kegiatan menjelaskan poto ini juga berlangsung proses Tanya jawab antar peserta dan terkadang juga terjadi perdebatan, karena adanya beda pandangan atas apa yang dipaparkan oleh rekannya.

Usai kegiatan analisa poto, pemandu kemudian menanyakan kepada peserta apa kita masih perlu untuk melihat secara langsung tiap-tiap bagian dari ekosistem desa kita. Melihat langsung itu menjadi penting untuk kita agar kita lebih dapat memahami bagaimana potensi dan masalah yang terjadi. Beberapa peserta ada yang menyakan kenapa harus melihat lagi padahal photonya sudah diambil dan mereka merasa sudah sangat memahami desanya. Kemudian pemandu menjelaskan bahwa dengan melihat langsung kita bisa melihat hubungan dan keterkaitan antara hal yang terjadi pada satu bagian desa kita dengan bagian lainnya dari ekosistem desa kita. Memahami keterkaitan ini adalah bagian yang sangat penting dalam upaya menjaga agar potensi yang kita miliki tetap ada dan lestari dan dengan memahami hubungan antara masalah yang kita lihat dan alami dengan factor lain dan bagian ekosistem desa kita, kita akan menjadi mengerti bagaimana cara memecahkan masalah yang terjadi. Sebelum acara berakhir selanjutnya disepakti jadwal kegiatan transek. Tim kecil yang ada ditersukan menjadi tim transek

Transek adalah kegiatan menelusuri wilayah desa dengan mengambil jalan melintang membelah ekosistem desa. Transek melakukan transek peserta berkesempatan untuk lebih memahami kondisi nyata tentang ekosistem desa melalui fakta dan input informasi dari masyarakat lokal tentang interaksi dari unsur dan kawasan ekosistem. Metode yang digunakan dalam kegiatan transek adalah kunjungan lapangan (survei), diskusi kelompok kecil, dan pleno.

Kegiatan transek dilaksanakan pada tanggal 28 Agustus 2008. sebelum melaksanakan kegiatan transek, peserta SLA berkumpul dulu dirumah bapak Wayan Dadu untuk melakukan diskusi persiapan dan menyepakati ulang jalur transek yang direncanakan serta data dan informasi yang akan digali dilokasi yang nantinya akan diamati oleh masing-masing tim. Tim hutan akan mengamati kondisi hutan, unsur-unsur yang ada dihutan yang saling mempengaruhi dan keterkaitan ekosistem hutan dengan ekosistem desa yang lainnya. Demikian juga halnya dengan tim yang akan mengamati bagian ekosistem desa, seperti; ekosistem kebun, sungai, sawah dan pemukiman.
Pada acara pembukaan, Pemandu menjelaskan bahwa proses yang akan dilakukan selama kegiatan transek/penelusuran lapangan adalah melakukan pengmatan, pengumpulan data dan informasi pada tiap bagia eksistem desa. Komponen yang akan diamati meliputi; kondisinya, pemanfaatannya, potensi yang ada disana dan permasalahan yang ada disana.
Kegiatan transek ini sendiri dilakukan untuk menindaklanjuti informasi yang diperoleh pada kegiatan sebelumnya, dimana kali ini untuk bersama-sama melihat kondisi nyatanya. Selanjutnya pemandu menanyakan kepada peserta hal-hal yang akan diamati selama dalam penelusuran lapangan, peserta mengusulkan untuk mengamati jenis tanaman dan hewan, Kondisi kesuburan tanah, dan kondisi lahan (kemiringan, penggunaan, bentang alam, dll.) serta masalah yang terjadi dan penyebabnya, dll. Selanjutnya pemandu mengajak setiap tim membuat rute perjalanan penelusuran desa yang akan ditempuh, mendaftar peralatan yang akan dibawa, dan bekal yang dibutuhkan selama penelusuran.
Usai diskusi selanjutnya dilakukan perjalanan untuk menelusuri ekosistem desa sesuai jalur yang disepakati. Selama perjalanan ini peserta mengamati keadaan di sepanjang perjalanan. Masing-masing tim berjalan menuju titik pengamatan yang telah direncanakan, setelah tiba dilokasi tersebut tim ini mengamati, mendiskusikan dan membuat catatan-catatan tentang informasi yang diperoleh dan hasil diskusi di setiap lokasi yang meliputi jenis tanaman dan hewan, Kondisi kesuburan tanah, dan kondisi lahan (kemiringan, penggunaan, bentang alam, dll.) di 5 unsur ekosistem desa (hutan, kebun, sawah, sungai dan pemukiman).
Tim transek dibagian ekosistem hutan dititik yang direncakan mengamati dan membuat catatan tentang Jenis-jenis makhluk hidup (tanaman dan hewan), termasuk usia tanaman dan kepadatannya, Sumber-sumber air, kondisi hutan (sehat, rusak dll.), pemanfaatan sumberdaya hutan, tutupan Lahan (prosentase tingkat kelebatan vegetasi (pohon, perdu, rumput dan buah), kasus-kasus yang terjadi di areal hutan.
Tim transek dibagian ekosistem kebun melakukan pengamatan dititik yang direncakan mengamati dan membuat catatan tentang jenis-jenis makhluk hidup (tanaman dan hewan), termasuk usia tanaman dan kepadatannya, Sumber-sumber air, kondisi hutan (sehat, rusak dll.), pemanfaatan sumberdaya hutan, tutupan Lahan (prosentase tingkat kelebatan vegetasi (pohon, perdu, rumput dan buah), kasus-kasus yang terjadi di areal hutan.
Tim transek dibagian ekosistem sungai Landak dan sungai Bohorok melakukan pengamatan dititik yang direncakan mengamati dan membuat catatan tentang jenis-jenis makhluk hidup di sungai (hewan dan tanaman di dalam dan sekitar sungai), keadaan sungai (warna, kekeruhan, bau, pendangkalan/sedimentasi, pencemaran sungai dari limbah industri, pertanian, domestik, dll.), dan tumpukan sampah di sekitar sungai, pemanfaat sungai, air sungai dan area sungai dan masalah-masalah.
Tim transek dibagian ekosistem sawah melakukan pengamatan dititik yang direncakan mengamati dan membuat catatan tentang jenis-jenis makhluk hidup (tanaman dan hewan), termasuk usia tanaman, sumber-sumber air pertanian, jenis usaha pertanian, penggunaan input kimia (pupuk, pestisida, dll.), limbah pertanian dan masalah-masalah yang terjadi dibidang pertanian
Tim transek dibagian ekosistem sawah melakukan pengamatan dititik yang direncakan mengamati dan membuat catatan tentang jenis-jenis fasilitas umum (pemukiman, sekolah, balai desa, pasar, dll.), jenis-jenis sarana dan prasarana yang terkait dengan air (MCK, saluran air, parit, sumur, pancuran, mata air, sarana air bersih, sarana air kotor, Sarana limbah padat, dll.), pemanfaatan Pekarangan rumah (tanaman hias, tanaman obat, bumbu-bumbu, tanaman sayuran, kolam, ternak dll), jenis-jenis industri rumah tangga dan masalah-masalah yang terjadi di pemukiman.
Usai melakukan transek, setiap tim menyusun data dan informasi yang diperoleh dalam tabel kegiatan transek:
Data Hasil Transek Tim Hutan
Kondisi • Kontur tanah berbukit
• Lapisan tanah tipis, dibagian bawah berbatu dan banyak cadas
• Tegakkan terdiri dari pohon-pohon tanaman keras dan dibagian bawah serasah kurang banyak tanaman semak.
• Banyak terdapat temnpat yang indah dan menarik.
• Banyak bukit-bukit yang curam dengan jumlah tegakkan yang kurang lebat.
• Jenis pohon yang paling banyak adalah pohon dammar.
Pemanfaatan • Banyak dikunjungi wisatawan
• Menjadi penyedia air bersih bagi masyarakat desa
• Menjadi habitat satwa dan habitat berbagai jenis hama tanaman
Potensi • Banyak terdapat sumber air bersih yang tersedia sepanjang tahun.
• Banyak terdapat bibit tanaman keras, tanaman obat dan bunga hias.
• Membantu mengurangi peningkatan suhu bumi, pemanasan global.
• Menjadi rumah bagi satwa
Masalah • Sering terjadi longsor
• Masyararakat kurang terlibat dalam pengelolaan dan pelestarian.
• Kurang ada usaha reboisasi dan penambahan jumlah tanaman tegakkan
• Kurang ada reboisasi didaerah yang mudah longsor dan bukit-bukit yang curam.

Data Hasil Transek Tim Kebun
Kondisi • Kontur tanah berbukit dan landai
• Lapisan tanah tipis, dibagian bawah berbatu dan banyak cadas
• Tegakkan terdiri dari pohon-pohon tanaman keras seperti karet jumlahnya paling banyak, durian jumlahnya mulai berkurang ( sedikit) dan dibagian bawah serasah kurang banyak tanaman semak.
• Banyak terdapat tempat yang indah dan menarik.
• Banyak bukit-bukit yang curam dengan jumlah tegakkan yang kurang lebat.
• Jenis pohon yang paling banyak adalah pohon rambung dan tanaman durian, jengkol dan petai ( sedikit).
Pemanfaatan • Kebun Masyarakat
• Banyak dikunjungi wisatawan
• Menjadi penyedia air bersih bagi masyarakat desa
• Menjadi habitat satwa dan habitat berbagai jenis hama tanaman
Potensi • Banyak terdapat sumber air bersih yang tersedia sepanjuang tahun.
• Banyak terdapat bibit tanaman keras, tanaman obat dan bunga hias.
• Membantu mengurangi peningkatan suhu bumi, pemanasan global.
• Menjadi rumah bagi satwa
Masalah • Sering terjadi konflik dengan satwa
• Masyararakat kurang peduli dengan perlindungan satwa.
• Banyak kebun campur yang berubah menjadi kebun dengan tanaman tunggal.
• Pohon durian semakin berkurang
• Banyak warga menggunakan racun untuk membasmi gulma.

Data Hasil Transek Tim Sungai
Kondisi • Kondisi sungai landak teridir dari bebatuan besar dan bulat, sedang sungai landak dengan batu-batu dengan ukuran yang lebih kecil dan pipih.
• Air di sungai Bahorok sudah banyak tercemar, sedang sungai landak airnya lebih jernih an tidak tercemar
• Air sungai bohorok lebih deras dari sungai Landak.
Pemanfaatan • Sarana transfortasi.
• Objek wisata
• Tempat memancing dan mencari ikan
Potensi • Tanahnya subur
• Banyak terdapat tumbuhan obat dan tanaman hias liar
• Banyak objek wisata yang menarik
• Cocokuntuk ditanami b erbagai jenis tanaman buah.
• Banyak rumput untuk pakan ternak.
Masalah • Ikan disungai Bohorok dan sungai landak sudah langka.
• Bantaran sungai Bohorok sudah gundul, terutama disisi sebelah kiri sungai. Sedang disungai Landak juga sudah gundul tetapi disisi sebelah kanan.
• Beberapa bagian sungai terus terkikis air sungai.
• Tidak ada jembatan penyebrangan untuk petani dan wisatawan dari desa timbang jaya menuju ke kebun.
• Pohon durian banyak yang sudah ditebangi, penanaman kembali masih kurang dilakukan.
• Banyak sampah disungai.
• Lubuk-lubuk ikan sudah tidak ada lagi setelah banjir banding.

Data Hasil Transek Tim Sawah
Kondisi • Permukaan tanah rendah
• Saluran irigasi banyak yang rusak
• Warna tanah hitam dan subur
• Banyak burung, tikus dan hama tanaman lain
• Banyak sawah terlantar
• Banyak sawah menjadi kebun tanaman keras
• Menanam padi dan menanam jagung tidak serempak, menyebabkan banyak hama
Pemanfaatan • Menjadi lokasi budidaya padi.
• Menjadi lokasi budidaya ikan
• Menjadi lokasi penggembalaan kerbau
• Menjadi lokasi budidaya padi, palawija/sayuran.
• Menjadi lokasi cocok tanam jagung
• Menjadi kebun tanaman keras.
Potensi • Tanahanya subur dijadikan sawah dan kebun.
• Cocok menjadi tempat budidaya ikan.
• Lookasinya indah dan menarik untuk dikunjungi wisatwan.
Masalah • Banyak sawah yang dijadikan kebun.
• Banyak sawah yang diltelantarkan.
• Banyak sawah yang tertimbun batu sewaktu terjadinya banjir banding.
• Banyak saluran irigasi dan pintu air yang rusaksaluran irigasi banyak yang tertimbun pasir dan Bantu.
• Banyak hama padi, seperti ; tikus, burung dan wereng.

Data Hasil Transek Tim Pemukiman
Kondisi • Permukaan tanah rata, dataran rendah, sering banjir.
• Pemukiman padat berlapis-lapis
• Lahan pemukiman dulunya bekas sawah.
Pemanfaatan • Dimanfaarkan menjadi lahan pemukiman
• Dimanfaatkan menjadi lokasi penananaman sayur dan berternak
• Tempat berjualan.
• Pasar, jalan umum, sarana ibadah, sarana olahraga
• Kolam ikan.
Potensi • Strategi untuk berjualan/pasar.
• Baik untuk kolam ikan, bercocok tanam sayur dan buah
• Saluran irigasi cocok menjadi tempat budidaya ikan air deras.
Masalah • Sering terjadi banjir.
• Banyak sampah.
• Saluran rigasi disekitar pemukiman sering tertimbun lumpur setelah banjir, banyak sampah disaluran irigasi, saluran irigasi dipakai menjadi tempat membuang sampah, mandi dan mencuci.

Selanjutnya dilakukan diskusi pleno, dimana masing-masing tim mempresentasikan hasil transek timnya kepada tim lainnya untuk memperoleh tanggapan dan masukan dari tim lain.
Hasil diskusi pleno ini kemudian disusun kedalam tabel hasil transek, seperti berikut ini.

Dari kegiatan analisa kelembagaan ini dilaksanankan dikediaman bapak wayan Dadu, salah seorang anggota SLA. Dilaksanakan pada tanggal 6 Seftember 2008. kegiatan ini diikuti oleh 27 peserta SLA.
Pemandu menjelaskan bahwa analisa kelembagaan adalah kegiatan untuk mengkaji hubungan kehidupan kita dengan kelembagaan yang ada dengan cara menggambarkan hubungan yang ada; manfaat kelembagaan dan keakraban” dengan disimbolkan dengan lingkaran dan jarak “ .
Melalui analisa ini diharapkan kita semua dapat mehami hubungan dan keterkaitan kehidupan kita dengan lembaga-lembaga yang ada. Dan dengan cara ini kita akan dapat memahami fungsi lembaga itu dan keakraban lembaga yang kita amati dengan kehidupan kita. Untuk melakukan analisa kelembagaan, pertama sekali marilah kita buat daftar seluruh lembaga-lembaga yang ada didesa kita.

Pemandu meminta agar peserta membuat daftar lembaga, kelompok, atau pihak lain yang selama ini telah dikenal atau berperan penting dan berhubungan dengan masyarakat. Selanjutnya peserta menyusun daftar lembaga-lembaga yang ada didesa.
Selanjutnya pemandu mengajak peserta untuk menentukan ukuran “ Manfaat” lembaga-lembaga yang sudah didata dengan membuat lingkaran, dengan ukuran Besar, kecil dan Sedang. Peserta kemudian mengambil priring, mangkok dan gelas sebagai ukuran untum membuat lingkaran. Lingkaran Piring untuk menggambarkan bahwa lembaga itu besar manfaatnya bagi masyarakat. Lingkaran Mangkon untuk menggambarkan bahwa lembaga tersebut Manfaatnya “ Sedang”. Sedangkan gelas dipakai untuk menggambarkan bahwa lembaga yang ada manfaatnya “ Kecil”.
Selanjutnya pemandu memberikan contoh dengan menempatkan lingkran besar ditengah-tengah kertas dan menjelaskan bahwa dibagian tengah ini “ Masyarakat” selanjutnya pemandu meminta peserta untuk menempatkan setiap lembaga satu persatu kedalam kertas, bila lembaga itu fungsinya “Besar” maka ia akan digambarkan besar, bila sedang akan digambarkan sedang dan bila kecil akan digambarkan kecil. Selanjutnya pemandu menjelaskan bahwa untuk menentukan tingkatan “keakraban” lembaga tersebut dengan masyarakat, ditentukan dengan jaraka lingkaran lembaga itu dengan lingkran masyarajkat, semakin jauh berarti semakin tidak akrab dan semakin dekat jaraknya dalam gambar berarti hubungannya “akrab”. Setelah selesai membuat gambar diagram Ven, selanjutnya pemandu menanyakan lembaga-lembaga mana saja yang menimbulkan masalah bagi masyarakat?, lembaga mana saja yang memberikan manfaat bagi masyarakat? Dan lembaga mana saja yang biasa-biasa saja. Pemandu memberikan tanda pada diagram ven, lembaga-lembaga yang menjadi maslaah, memberikan manfaat dan biasa-biasa saja. Pemandu kemudian menanyakan kepada peserta “ apa kita perlu memberikan warna pada lingkaran-lingkaran ini, supaya kita lebih mudah mengamatinya? Selanjutnya pemandu menanyakan warna apa yang cocok untuk lingkaran dengan manfaat yang berbeda-beda itu. Kemudian disepakati bersama untuk memberikan warna merah untuk lembaga yang membuat maslah, wana hijau untuk lembaga memberikan manfaat untuik masyarakat dan warna kuning untuk lembaga yang biasa-biasa saja.
Setelah diagram Ven rampung dikerjakan, selanjutnya pemandu meminta salah seorang peserta untuk mempresentasikan kepada peserta lain, hasil diskusi kelompoknya dan meberikan kesempatan kepada peserta lain untuk bertanya dan memberikan saran serta tanggapannya.
Melalui kegiatan analisa kelembagaan menggunakan diagram Venn ini terjadi proses saling belajar dan berdiskusi antar sesama peserta . terkadang timbul perdebatan dan adu argument yang akhirnya melahirkan kesepakatan. Dalam argument dan perdebatan yang terjadi masing-masing peserta menyampaikan pendapatan dan pandangannya terhadap hubungan dengan lembaga-lembaga yang ada ( manfaat dan keakraban) yang sangat dipengaruhi oleh pengalaman pribadi, hal itulah yang menyebabkan terjadinya perdebatan dan adu argument anatar peserta. Hasilk akhir adalah alasan yang paling rasionalah yang kemudian diterima bersama untuk menilai manfaat dan keakraban dengan lembaga tersebut.

Kegiatan ini dilaksanakan tanggAL 6 Agustus 2008 dikediaman bapak Wayan Dadu diikuti oleh 27 Peserta SLA. Kegiatan ini bertujuan untuk mengenali waktu-waktu yang tepat untuk melaksanakan kegiatan bersama masyarakat. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini adalah; diskusi kelompok dan pleno.
Pada awal kegiatan pembuatan kalender musim, FA membuka acara ini dan memberikan penjelaskan singkat tentang tujuan kegiatan pembuatan kelander musim, yaitu menyusun aktifitas yang dilakukan masyarakat sehubungan dengan perubahan musim yang terjadi sepanjang tahun. FA juga menjelaskan bahwa dengan membuat kalender musim, masyarakat nantinya dapat menyusun rencana kegiatan dapat manfaat kalender musim bagi masyarakat. Selanjutnya pemandu mengajak masyarakat untuk mulai membuat kelander musim, pemandu mananyakan hal-hal apa saja yang menjadi isu penting yang terkait dengan aktivitas dan perikehidupan masayarakat desa yang berhubungan dengan perubahan musim yang terjadi sepanjang tahun dan dari tahun ke tahun.
Peserta memberikan usulan dan pemandu mencatat setiap usulan peserta selanjutnya pemandu memberikan contoh tabel kalender musim dan menjelaskan bagaimana cara mengisikan isyu penting kedalam kalender musim untuk dianalisa kondisi dan kejadiannya ada pada bulan apa saja sepanjang tahunnya. Isyu penting yang akhirnya disepakati untuk dianalisa adalah; luasan lahan kebun campur, konflik dengan orangutan, jumlah tanaman durian, pemanfaatan lahan oleh petani, banjir, kesehatan, waktu turun kesawah, jumlah ternak dan penghasilan dari budidaya ikan serta jumlah kunjungan wisatwan.

Selanjutnya peserta melakukan diskusi kelompok untuk menyusun kalender musim. Peserta membuat berbagai simbol untuk menggambarkan kondisi dari isyu penting yang sedang mereka amati. Mintalah masing-masing kelompok untuk mempresentasikan hasilnya kepada kelompok yang lain dan kemudian mengajak peserta untuk mengklarifikasi hal-hal yang bisa memperjelas hasil diskusi.
1. Setelah selesai semuanya, ajaklah peserta untuk menyimpulkan hasil kalender dan dikaitkan dengan beberapa hal yaitu:
– Melihat apakah ada keterkaitan dan hubungan sebab akibat antar kebiasaan masyarakat yang muncul di kalender.
– Waktu-waktu strategis untuk melakukan kegiatan terkait konservasi alam dan kehidupan masyarakat.
Kilas Balik Proses:
Setelah kalender dibuat kemudian masing-masing kelompok mendiskusikan beberapa hal penting yang terkait dengan pembuatan kalender musiman, misalnya:
– Apa yang harus diperhatikan dalam pembuatan kalender musim?
– Apa manfaat yang didapatkan dari kalender musim ini?
– Jenis-jenis informasi apa saja yang bisa digali dari kalender musim ini?
– Proses untuk mendapatkan kalender musim (langkah-langkah, siapa yang terlibat, bentuk kegiatan untuk menghasilkan kalender musiman yang sesuai dengan yang program masing-masing)
– Bagaimana kira-kira peserta akan memandu sessi ini.

Kegiatan ini bertujuan untuk membangun pemamahan peserta SL tentang kecenderungan dan perubahan lingkungan dan perilaku terkait dengan sumber daya alam dan kehidupan masyarakat. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini diskusi kelompok kecil dan pleno.
Pemandu membuka acara dan menjelaskan tujuan pertemuan hari ini, yaitu secara bersama-sama kita akan melakukan “Analisa Tren”. Pemandu menanyakan kepada peserta apa ada yang tahu apa itu “ TREN” . peserta kebanyakan mengetahuai bahwa tren itu sama dengan musim. Contohnya; Musim Celana Ketat, Musim Rambut Cepak, musik dangdut, dll. Kemudian pemandu lebih menjelaskan bahwa tren terkadang sangat berhubungan erat dengan musim tetapi yang pasti ia berhubungan dengan waktu. Kemudian pemandu menanyakan “ apakah dalam usaha pertanian, model kebun, cara bertani juga terjadi tren?” dan apakah pola pemanfaatan kebun, sawah dan cara bercocok tanam juga mengalami kecendrungan perubahan seiring berjalannya waktu”.
Lalu pemandu mengajak peserta mengingat “ kalau di desa kita, kejadian-kejadian apa sajakah yang menandai perubahan-perubahan yang terjadi desa kita”. Sebagian peserta mengatakan bahwa persitiwa besar yang pernah terjadi di desa ini dan sangat mempengaruhi kehidupan masyarakat adlah “ banjir bandang pada tahun 2003 lalu”. Banjir ini telah memporak-porandakan kawsan wisata Bukit Lawang yang menyebabkan banyak kerugian harta benda dan nyawa. Sejak saat itu turis jarang berkunjung ke bukit lawang, bukit lawang sungi sampai tahun 2006. sawah-sawah petani ditimbuni batu-batuan yang tersapu banjir bandang, saluran irigasi rusak. Tanaman durian, pisang, bambu disepanjang sungai Bohorok habis tersapu banjir dan saat bantaran sungai Bohorok sudah gundul. Kemudian pemandu menanyakan lagi “ kejadian apa lagi yang sangat berpengaruh di desa kita ini”. Peserta menjawab; perang PP ( pemuda Pancasila dengan masyarakat), Naiknya harga karet dan sawit, dst.
Pemandu kemudian menjelaskan bahwa tren selalu terjadi seiring perubahan waktu. Dari tahun ke tahun berikutnya banyak hal yang terus berubah. Selanjutnya pemandu mengajak peserta mendata persitiwa besar yang berpengaruh. Pemandu mempersilahkan kelompok kecil melakukan analisa tren dan membuat simbol-simbol atas kejadian yang didata. Selanjutnya pemandu meminta peserta menyusun peristiwa-peristiwa tersebuat dalam tabel analisa kecendrungan. Poin-poin penting dimasukkan dalam tabel. Selanjutnya disepakati untuk menentukan sejak tahun berapa sampai tahun berapa analisa tren ini akan dilakukan. Peserta mengusulkan sejak tahun 1960, yaitu pada saat tanah-tanah yang tidak digarap sat itu diberi tanda patok merah oleh veteran dan digarap oleh veteran. Sampai tahun 2008, dimana masyarakat saat ini mulai berbondong-bondong mengubah kebun campurnya menjadi kebun kelapa sawit.
Setelah peserta selesai mengerjakan analisa tren selanjutnya pemandu meminta masing-masing kelompok untuk mempresentasikan hasilnya analisanya kepada kelompok yang lain. Pemandu membantu untuk mengklarifikasi hal-hal yang belum jelas untuk memperjelas hasil analisa ini. Selanjutnya pemandu menanyakan apa yang harus diperhatikan ketika kita membuat analisa kecendrungan? Apa manfaat yang didapatkan dari analisa kecenderungan ini? Jenis-jenis informasi apa saja yang bisa digali dari analisa kecenderungan ini? Bagaimana kira-kira kondisi dimasa yang akan datang? 5 tahun lagi ? 10 tahun lagi.

Dikebanyakan orang, seringkali modal hanya difahami ada dalam bentuk UANG, hal yang seperti ini, selama ini sudah sangat melekat dalam lingkungan masyarakat. Karena pemahaman ini modal-modal lain seringkali kurang diperhitungkan, akibatnya modal-modal lain tidak muncul dalam analisa modal kurang termunculkan. Sesungguhnya modal adalah berbagai sumber daya yang dimiliki yang apabila dikelola dan dioptimalkan penggunaannya dapat membantu mereka memperbaiki kondisi. Aset atau modal yang dimiliki atau dikuasai oleh masyarakat bisa seperti, sarana, finansial, lingkungan, dan sumber daya manusia, adalah kumpulan sumber yang apabila dikelola secara tepat bisa digunakan untuk mendukung untuk melakukan sebuah program. Disadari pula terkadang di dalamnya banyak mengandung masalah-masalah yang saling berkaitan antara satu dengan lainnya, sehingga kemanfaatannya terhadap masyarakat terkadang tidak maksimal.

Kegiatan ini bertujuan untuk mengetahui masalah-masalah aset yang dimiliki oleh masyarakat desa dan Mengetahui keterkaitan atau hubungan masalah, antara aset dengan aset lainnya.

Pada awal proses pemandu menyampaikan maksud dan tujuan sessi ini yaitu untuk melakukan analisa 5 modal. Pemandu menanyakan apa itu Modal dan apa saja 5 modal itu?.
Umumnya peserta hanya menjawab modal itu adalah Uang, Mas, Ternak. Selanjutnya pemandu menguraikan bahwa uang hanya satu dari 5 modal. Sesungguhnya masyarakat mempunyai banyak jenis modal yang lain, yaitu; modal fisik, modal alam, modal sosial dan manusia juga menjadi modal yang paling berharga.

Pemandu kemudian menyakan masalah apa saja yang ada pada aset yang dimiliki masyarakat? Menurut anda apakah masalah itu dapat mempengaruhi kemanfaatan aset tersebut? Apakah masalah yang ada pada aset masyarakat, saling berkaitan antara satu dengan lainnya? Apa tindakan dan aksi yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut?
Selanjutnya pemandu membagi peserta menjadi 5 kelompok , per kelompok ada 4-6 orang. Lalu pemandu membagikan laporan hasil pelaksanaan SLA dibagikan kepada setiap kelompok sebagai bahan untuk membuat daftar aset dan masalahnya. selanjutnya pemandu meminta peserta untuk menganalisa terhadap masalah yang ada pada aset yang dimiliki masyarakat dan peserta diminta untuk menghubungkan keterkaitan antara masalah, aset yang satu dengan lainnya. Setelah diskusi kelompok selesai masing-masing kelompok yang membahas 1 dari 5 modal yang ada, poemandu meminta agar masing-masing kelompok mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya. Dari diskusi ini diketahui potensi/aset yang dimiliki, kondisinya saat ini, penyebab kurang oftimalnya pemanfaatan potensi yang ada. Selanjutnya bersama sama pemandu dan peserta menarik garis hubung antar tiap potensi yang dimiliki dan bersama-sama menarik kesimpulan atas analisa yang sudah dilakukan.

”Jembatan Bambu” adalah kegiatan penyusunan program dan kegiatan untuk mengubah kondisi yang ada saat ini menuju kondisi ideal yang didamkan. Dalam kegiatan ini peserta difasilitasi untuk menyusun kegiatan-kegiatan apa saja yang perlu dilakukan untuk bisa mewujudkan kondisi ideal yang diinginkan.
Kegiatan ini dilaksanakan dirumah bapak Wayan Dadu, pada tanggal 9 Seftember 2008, diikuti oleh 28 Peserta SLA. Pada awal kegiatan pemandu membuka acara dan menjelaskan tujuan dari kegiatan yang dilaksanakan hari ini, yaitu kegiatan ”Jembatan Bambu”. Pemandu menyakan kepada peserta ”bagaimana caranya kalau kita ingin membuat titi atau jembatan dari bambu” .
Peserta memberikan penjelasan bahwa untuk membuat jemtana jambu , maka bambu-bambu harus disusun satu persatu, melintang menghubungkan dua sisi sungai. Selanjutnya setelah bambu-bambu ini terpasang maka harus diikat supaya tidak berserakan. Selanjutnya pemandu menanyakan ”Apa manfaat Jembatan Bambu itu”. Peserta menjawab untuk menyebrangi sungai atau parit.
Selanjutnya pemandu memberikan penjelasan demikian juga halnya dengan Jembatan Bambu dalam kegiatan kita ini. Jembatan bambu yang akan kita susun adalah untuk menghantarkan kondisi saat ini kepada kondisi yang akan datang yang kita inginkan. Satu batang bambu itu dapat diartikan sebagai satu kegiatan, sedangkan ruas-ruas bambu dapat bermakna langkah-langkah atau tahapan untuk bisa menyelesaikan satu kegiatan.
Pemandu kemudian menjelaskan bahwa untuk mewujudkan mimpi masa depan desa kita, kita perlu untuk menyusun rencana kegiatan. Seperti halnya jembatan bambu sebuah kegiatan tentunya ada langkah-langkah yang harus dilakukan, maka demikian juga dengan rencana kegiatan kita membangun mimpi masa depan desa kita.
Selanjutnya pemandu meminta peserta menyusun kegiatan apa saja yang akan dilakukan. Setelah rampung masing-masing kelompok mempresentasikan rencananya dan kelompok lain memberikan saran, masukan dan mempertanyakan kenapa kegiatan seperti itu yang dilakukan. Setelah semua kelompok mempresentasikan rencananya dan bersama-sama mengkritisi rencana aksi yang disusun tiap kelompok. Kemudian pemandu meminta tiap kelompok kembali ke kelompoknya dan mendiskusikan kembali rencana kelompoknya setelah mendengarkan masukan dari kelompok lain. Kemudian pemandu memberikan waktu dan mempersilahkan tiap kelompok melakukan diskusi dengan kelompoknya.
Setelah kelompok selesai mengkritisi rencana aksi masing-masing, pemandu kemudian memberikan penjelasan bahwa dalam sebuah kegiatan nantinya pasti kita membutuhkan bahan, alat, pengetahuan, informasi, dana dan tenaga yang akan mengerjakan. Juga penting untuk kita menentukan waktu pelaksanaan kegiatan, tempatnya dan siapa yang akan bertanggungjawab/mengkoordinir kegiatan tersebut. Pemandu menjelaskan agar peserta membuat rencana kegiatan sesuai dengan hasil kajian sebelumnya. Dari mulai data-data dan informasi hasil transek, nalisa kelembagaan, kalender musim, analisa tren dan analisa 5 modal.
Selanjutnya pemandu meminta peserta untuk menyusun rencananya kedalam tabel rencana aksi, pemandu memberikan contoh tabel penyusunan rencana pada tabel rencana aksi. Peserta dibagi atas 5 kelompok untuk membahas rencana pada setiap bagian ekosistem desa. Pemandu menyiapkan alat dan bahan untuk kegiatan diskusi kelompok.

Usai penyusunan jembatan bambu, selanjutnya peserta SLA diajak untuk menyepakati waktu membuat peta desa impian, yaitu gambaran peta desa dimasa yang akan yang diinginkan oleh masyarakat. Pembuatan peta desa ini kemudian disepakati akan dibuat bersama-sama pada tanggal 14 Seftember 2008.
Membuat Peta Desa Impian
Kegiatan ini dilaksanakan diposko ALIVE desa Timbang Jaya. FA memberikan penjelasan bahwa, peta desa impian adalah gambaran kondisi desa yang akan yang kondisinya seperti yang kita ingnkan, dimana potensi sumber daya alam dapat kita kelola dengan baik dan berkelanjutan serta kehidupan ekonomi masyarakat maju dan sejahtera.
Pemandu mempersiapkan bahan-bahan untuk menggambar peta desa impian. Selanjutnya pemandu membentangkan peta desa saat ini pada dinding dan rencana yang disusun pada kegiatan jembatan bambu ditempelkan disebelahnya. Pemandu kemudian meminta peserta untuk menggambarkan apa peta desa impian dan menanyakan dimanakan titik-titik yang akan berubah dari kondisi saat ini, sesuai dengan rencana yang telah kita susun.
Selanjutnya peserta mulai menggambarkan peta desa impian, hasil dari kegiatan pembuatan peta desa impian adalah sebagai berikut:

RENCANA AKSI :
MEMBANGUN KESELARASAN UPAYA KONSERVASI DENGAN USAHA PENINGKATAN EKONOMI

1. Resolusi konflik dengan OU & Satwa lainnya
Konflik dengan satwa terjadi karena satwa yang diharapkan hanya tinggal dihutan, pada musim buah dikebun OU & satwa lain seperti beruang juga memasuki kebun masyarakat dan merusak tanaman buah dan mengambil buah. Konflik ini telah menyebabkan kerugian dipihak petani dan keterancaman kehidupan satwa, pada masa yang lalu pernah terjadi kematian satwa akibat konflik yang terjadi. Masyarakat faham bahwa orangutan adalah satwa yang dilindungi dan satwa ini mempunyai peran yang sangat besar untuk menjaga keanekaragaman jenis tanaman hutan. Konflik ini bermuara pada belum terpenuhinya pakan satwa yang tersedia secara alami oleh alam, hal ini terjadi karena jumlah tanaman yang penghasil pakan dihutan tidak cukup. Kurangnya pakan OU & Satwa lain dihutan menyebabkan satwa ini masuk kekebun dan mengambil buah-buahan dan merusak tanaman. Kondisi ini sesungguhnya tidak menguntung kedu pihak, baik satwa maupun masyarakat petani. Resolusi konflik menjadi salah satu pilihan yang terpenting, agar satwa lestari dan masyarakat sejahtera.

Dalam upaya membangun resolusi konflik yang permanen masyarakat menyadari perlu dilakukan usaha-usaha untuk ; Meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat serta penyediaan pakan oleh alam sendiri agar orangutan dan satwa lain tidak lagi mengambil buah-buahan dan merusaka tanaman dikebun.

Peningkatan pengetahuan dilakukan dalam rangka mengembangkan kesadaran, pengetahuan dan pola yang efektif dalam upaya mengatasi konflik dengan satwa, kegiatan yang perlu dilakukan adalah workshop untuk membangun pola penghalauan orangutan yang efektif, menyebarluaskan pengetahuan dan tata cara resolusi konflik kepada masyarakat luas. Disisi lain resolusi konflik juga membangun sebuah sistem resolusi yang permanen yang menyentuh akan permasalahan konflik, yaitu penyediaan pakan secara alami oleh alam untuk OU dan satwa lain. Hal yang perlu dilakukan dalam upaya ini adalah ”Penanaman Pohon Pakan OU” dikebun yang berbatasan dengan hutan TNGL dan melakukan kerjasama dengan BBTNGL dalam upaya peningkatan jumlah pohon penghasil pakan OU dan satwa lain dihutan. Yang dilakukan masyarakat saat ini adalah melakukan pembibitan tanaman buah untuk pakan OU.

Dalam aksinya Tim sekolah lapangan menyebarluaskan gagasan dan informasi kepada masyarakat luas untuk penggalangan dukungan dan kerjasama agar kegiatan ini dapat terealisasi. Komunikasi intensif dengan pemerintah desa dan camat juga sudah dilakukan. Program ini nantinya diharapkan akan menjadi program desa untuk dapat memperoleh dukungan masyarakat luas, pemerintah dan para pihak secara berkelanjutan.

Sehubungan dengan banyaknya wisatawan yang ingin menikmati keindahan alam dan melihat orangutan, nantinya masyarakat juga akan melakukan penggalangan dukungan dana dari wisatwan mancara negara dan wisatawan lokal untuk membeli bibit tanaman buah dan menanamnya dikebun yang berbatasan dengan hutan. Hasil penjualan bibit tanaman akan digunakan untuk membibitkan dan membiayai biaya perawatan tanaman.
2. Membangun Wisata Konservasi
Desa-desa site program ini merupakan bagian dari kawasan wisata bukit lawang. Dalam kegiatan wisata seperti yang selama ini, keuntungan dan manfaat dari kegiatan wisata belum dirasakan oleh seluruh masyarakat. Para ptani yang mempunyai kebun berbatasan dengan kawasan hutan TNGL yang kebunnya selalu diganggu OU dan satwa lain adalah kelompok yang tidak memperoleh manfaat dari aktifitas wisata, sementara keberadaan satwa OU sendiri adalah daya tarik tersendiri bagi wisata bukit lawang.

Wisata konservasi dilakukan dalam rangka meluaskan ruang lingkup kegiatan wisata dan objek lokasi serta aktifitas wisata. Dimasa yang akan datang wisatawan diharapkan dapat berwisata dengan menginap dirumah-rumah penduduk, melakukan kegiatan pertanian bersama masyarakat, menikmati makanan tradisional yang dimakan masyarakat serta melakukan kegiatan-kegiatan khusus bernilai konservasi, seperti ; memahami pertanian organik, membuat MOL & pupuk kompos, membajak sawah, menanam padi, membibitkan tanaman, menanam pohon untuk pakan OU dan reboisasi DAS Bohorok dan Ladak.

Kegiatan yang akan dilakukan meliputi: Mengembangkan pengetahuan masyarakat menjadi tuan rumah untuk parawisatawan, Mengembangkan pengetahuan dan keterampilan dalam pelayanan/ service bagi wisatawan, membangun sarana yang memadai untuk menerima penginapan dan lokasi bersantai bagi wisatawan, mengembangkan kesenian, makanan tradisional, melakukan penggalangan dukungan masyarakat luas untuk pembangunan wisata desa konservasi, Mendorong pemerintah desa dan kerjasama desa-desa dikawasan perbatasan TNGL untuk membangun kelembagaan pengelola kegiatan wisata konservasi, menyusun aturan kepariwisataan desa dan distribusi manfaat bagi masyarakat luas. Menggalang dukungan pemerintah dan para pihak untuk pengembangan wisata konservasi, mengembangkan kafasitas masyarakat, pemerintah desa dan kelemabagaan kepariwisataan desa melakukan promosi kegiatan wisata serta pengembangan jarinngan.

3. Mengembangkan Kebun Campur/ Polikultur
Beberapa tahun terakhir banyak sekali terjadi perubahan pola berkebun masyarakat. Dulunya masyarakat menerapkan model kebun campur/ dengan banyak jenis tanaman. Membaiknya harga tanaman perkebunan beberapa waktu lalu telah mendorong masyarakat untuk mengubah model kebun campur menjadi kebun monokultur/ dengan jenis tanaman sejenis pada satu kebun.
Kondisi ini telah menyebabkan berkurangnya kenakeragaman hayati dan tingginya penggunaan obat-obatan dan pupuk kimia pada usaha pertanian. Disisi lain model pertanian seperti ini juga terbukti rapuh, sejak november 2008 lalu saat harga komoditas kebun sawit dan karet turun petani menurun secara drastis pendapatannya.

Pola berkebun seperti ini juga telah menyebabkan kenakeragaman durian Bohorok yang merupakan tanaman endemik bukit lawang mulai berkurang. Banyak jenis tanaman durian yang dulunya ada, seperti durian tembaga, durian emas, durian kulpik dan durian bakul saat ini mulai langka. Kondisi ini diperburuk oleh tingginya permintaan kayu gelondongan, dimana kemudian pohon durian banyak ditebang untuk dijual dan dijadikan bahan bangunan.
Dalam situasi ini tim SLA selanjutnya menyusun rencana aksi untuk mengurangi konversi/ pengubahan kebun campur menjadi kebun monokultur dan melakukan pengayaan jenis tanaman serta membudidayakan kembali jenis tanaman yang mulai langka untuk mencegah dari kemusnahan. Dalam upaya tersebut masyarakat akan melakukan pembibitan tanaman buah durian dan tanaman buah –buahan lainnya untuk pengayaan jenis tanaman kebun. Tim SLA juga menyebarkan informasi kepada masyarakat luas tentang pentingnya pelestarian durian bohorok sebagai salah satu ciri khas bohorok. Tim sekolah lapangan saat ini sudah melakukan sosialisasi kepada pemerintah desa dan kecamatan untuk penggalangan dukungan. Nantinya tim SLA ini akan berupaya mendorong pemerintah desa membuat aturan untuk mencegah konversi kebun campur menjadi kebun monokultur dan selanjutnya melakukan penggalangan dukungan pememrintah dan para pihak untuk pengembangan kebun campur.
4. Pengembangan Pertanian Organik
Mahalnya harga pupuk menjadi salah masalah yang sangat memberatkan kehidupan petani. Sementara saat ini tanaman kurang subur dan tidak berbuah tanpa diberi pupuk karena tanahnya sudah mati. Penggunaan pupuk dan obat-obatan kimia juga terbukti hanya menciptakan ketergantungan petani dan membuat petani semakin tidak berdaya dan berdaulat atas pertaninnya. Pengetahuan dan kearifan petani tua hilang dan menyebabkan ketidakseimbangan ekosistem alam sehingga menyebabkan banyak jenis hama pertanian.

Pola pertanian seperti sama seklai bukan solusi untuk peningkatan ketersediaan dan kedaulatan pangan bangsa ini. Dalam menghadapai masalah tersebut Tim SLA akan melakukan usaha penyediaan pupuk alami dengan membuat pupuk sendiri dan obat pengendali hama secara alami, memahami bagaimana ekologi tanah dan mengembalikan kesuburan tanah untuk mengurangi penggunaan pupuk dan obat-obatan kimia pertanian.
Pada tahap awal yang terpenting dilakukan adalah peningkatan kafasitas pengetahuan dan keterampilan petani tentang tanah dan ekologi tanah, cara membuat MOL dan pupuk kompos cair dan padat. Mengelola dan memanfaatkan sumber daya lokal untuk membuat pupuk kompos. Melakukan upaya advokasi agar pemerintah mengkonversi Subdisi Pupuk Menjadi pinjaman ternak kepada petani, agar petani mempunyai ternak yang merupakan PABRIK PUPUK-nya petani.

5. Pola Tanam padi Serempak & pemanfaatan lahan terlantar.
Sejak berkembangnya pola pertanian intensif dan gelombang revolusi hijau, dimana saat ini petani mulai dikenalkan kepada penggunaan pupuk, bibit unggul dan obat-obatan kimia. Pola pertanian padi didesa ini mengalami perubahan yang sangay significan. Saat ini hampir tidak ada lagi petani didesa ini yang menanam padi local “Desa ini sudah kehilangan kedaultan atas benih”. Pola pertanian intensif, penggunaan pupuk dan obat-obatan kimia juga telah merampas pengetahuan dan kearifan petani dalam melakukan suaha budidaya padi. Pada ujung situasi ini, petani mulai menerapkan model tanam padi bongkar pasang dan penggunaan lahan persawahan tanpa henti. Hal ini menyebabkan menurunnya koalitas kesuburan tanah dan berkembangnya banyak jenis hama pertanian.

Sehubungan situasi ini petani upaya yang akan adalah memberikan informasi untuk peningkatan pengetahuan dan kesadaran petani tentang pentingnya kembali memanfaatkan sawah agar hama dapat dikendalikan. Dalam upaya ini pihak pengelola irigasi, petugas P3A, pemerintah desa, kelompok tani, kecamatan yang dulunya sangat aktif dan intensif mendorong pola pertanian serempak diharapkan dapat memainkan perannya dalam upaya mendorong pemanfaatan kembali lahan persawahan dan mendorong terlaksananya pola tanam serempak untuk itu tim SLA akan melakukan upaya mengkomunikasikan gagasan dan menggalang dukungan para pihak termasuk pemerintah daerah melalui dinas pertanian untuk kembali mendorong pemanfaatan kembali lahan persawahan yang terlantar dan pola tanam serempak.

6. Perbaikan Sarana Irigasi
Beberapa tahun menjelang banjir Bandung, pola tertib tanam ini mulai terganggu, banyak petani yang tidak lagi serempak menanam padi. Situasi ini semakin memburuk pasca banjir Bandung tahun 2003. saat ini beberapa saluran irigasi tertimbun kayu, batu dan pasir, sebagian besar pintu air rusak, beberapa diantaranya Belem diperbaiki sampai saat ini. Saluran irigasi distribusi kesawah-sawah tertimbun batu, pasir dan lumpur yang akhirnya rata dengan sawah saat ini belum juga dibenahi. Kondisi ini menyebabkan efektif air tidak dapat mencapai sawah, sawah tersebut menjadi lahan kering, dimana hal ini mendorong konversi lahan sawah menjadi kebun.

Pada era sebelumnya, sekitar tahun 1995 saluran irgasi kondisinya dan pengelolaannya cukup baik, petugas P3A saat itu cukup tegas untuk mengatur dan mengurus saluran irigasi, kapan saat saluran air dibuja dan ditutup. Petugas P3A pada waktu memperoleh dukungan yang sangat kuat dari pemerintah desa, kecamatan dan dinas pertanian. Pihak pemerintah kecamatan dan PPL pada sat itu selalu mengumumkan lepada masyarakat, kapan waktunya memberihkan sawah, mengolah sawah, menyemai dan menanam, saat itu pola tanam serempak terus berlangsung. Pemerintah dan petugas pengairan pada saat itu cukup tegas lepada petani yang tidak tertib menggarap lahan persawahannya.

Kondisi ini terus memburuk, petugas P3A menjadi kurang tegas dalam mengatur waktu pembukaan dan penutupan air irigasi. Situasi ini juga diperburuk oleh prilaku beberapa pihak yang melakukan usa budidaya ikan yang menolak penutupan saluran irgasi. Pemerintah kecamatan, PPL dan diasn pertanian berangsur tidak lagi memperdulikan pola tanam serempak ini, kondisi ini terus memburuk dan berujung pada penelantaran lahan pertanian oleh sebagian besar masyarakat seperti yang terjadi saat ini.

Beranjak dari situasi ini, Tim SLA berupaya untuk penggalangan dukungan masyarakat dan pemerintah desa untuk dapat membenahi kembali saluran irigasi dan pintu air yang rusak, meminta dukungan pemerintah desa, camat dan dinas pertanian untuk merehabilitasi saluran irigasi yang rusak agar sawah yang ditelantarkan saat ini kembali digarap dan diberlakukan pola tertib tanam .

7. Budidaya Tanaman Obat dan tanaman hias.
Masyarakat desa ini sebelumnya mempunyai pengetahuan yang sangat baik terhadap jenis tanaman obat dan cara pemanfaatannya. Hal ini mendorong masyarakat untuk mengembangkan dan melestarikan berbagai jenis tanaman obat. Banyaknya tekanan dan derasnya arus informasi tentang obat-obatan dan perubahan gaya hidup menyebabkan kebanyakan masyarakat sudah melupakan pengetahuan orangorang tua mereka tentang obat-obatan trasidonal dan manfaat tanaman. Pengetahuan itu saat ini banyak yang sudah tidak terwariskan, ketidaktahuan ini menyebabkan masyarakat menjadi sangat kurang peduli dengan tanaman obat dan kelestariannya.

Tim SLA selanjutnya merencakan untuk mengumpulkan pengetahuan tentang obat-obatan tradicional, membudidayakan kembali tanaman obat dan ketika tanaman ini sudah cukup berkembang nantinya akan melakukan upaya untuk mengolah dan mengembangkan pasar tanaman obat sebagai salah satu sumber pendapatan keluarga.

Dalam upaya pelestarian tanaman obat, Tim SLA akan menyebarkan informasi tentang pengetahuan tanaman obat dan cara pengolahan dan manfaatnya kepada masyarakat luas. Selanjutnya meminta dukungan pemerintah desa dan instansi terkait untuk memberikan pelatihan teknis budidaya, pengolahan dan pemasaran tanaman obat.

8. Reboisasi DAS Bohorok untuk menghijaukan & Mencegah erosi DAS Bohorok
Sungai bohorok dulunya sangat kaya dengan berbagai jenis ikan, airnya tetap banyak sepanjang tahun dan disekitar sungai ada banyak tanaman buah durian, pisang dan bambu yang sangat membantu masyarakat meningkatkan ekonominya, dan sungai bohorok juga menjadi lokasi yang sangat indah dan menarik sehingga banyak dikunjungi wisatawan. Kondisi air sungai yang masih dalam ketika itu membuat banyak wisatawan yang menelusuri sungai dengan menggunakan ban, dimana hal ini menjadi daya tarik tersendiri kegiatan wisata bukit lawang.

Pada saat ini sungai Bohorok dan sungai Landak juga sangat banyak ikannya, ikan jurung berkembangbiak cukup baik disungai bohorok ketika itu, tetapi saat ini kondisi sungai sudah sangat berubah, ikan jurung sudah langka dan airnya banyak tercemari oleh sampah dan limbah rumah tangga, pinggiran sungai bohorok yang dulunya rimbun dan kaya dengan berbagai jenis tanaman saat ini sudah gundul akibat banjir bandang tahun 2003. pengikisan terus terjadi disepanjang bantaran sungai, puluhan hektar perladangan sudah berubah menjadi sungai karena tidak ada tanaman pencegah erosi disekitar bantarannya.

Beranjak dari situasi ini tim SLA menyusun rencana kegiatan untuk melakukan reboisasi DAS Bohorok, dengan melakukan pembibitan tanaman, penggalangan dukungan pemerintah dan masyarakat terhadap upaya reboisasi untuk penyediaan bibit. Untuk menjamin keberlanjutan usaha reboisasi ini, nantinya diharapkan kegiatan ini dapat dipadukan dengan kegiatan desa wisata konservasi. Wisatwan diharapkan dapat dilibatkan dalam kegiatan reboisasi DAS Bohorok, dengan cara membli bibit yang disediakan dan melakukan kegiatan penanaman, hasil penjualan bibit ini akan dipakai untuk membuat bibit baru dan melakukan usaha perawatan tanaman.

9. Pengembangan Usaha Ternak untuk penyediaan Bahan Baku Kompos
Usaha ternak didesa ini masih sangat kurang, luas lahan yang tersedia dan ketersediaan pakan ternak melimpah tetapi tidak dimanfaatkan oleh masyarakat. Usaha ternak sesungguhnya sangat bermanfaat bagi masyarakat, disamping dapat meningkatkan pendapatan, kotoran ternak juga akan mendorong peningkatan produksi pupuk organic untuk mengurangi ketergantungan petani terhadap pupuk kimia.

Dalam program ini tim SLA akan menggalang dukungan pemerintah untuk penyediaan induk ternak yang baik dan memberikan pinjaman induk ternak kepada petani yang akan dipinjamkan secara bergulir. Pola seperti ini diharapkan nantinya akan dapat meningkatkan kesejahteraan petani, kemajuan usaha pertanian dan mendukung usaha pemerintah daerah untuk produksi daging. Hal lain juga diharapkan terbangun adalah terbangunnya nilai-nilai kebersamaan dan solidaritas dikalangan masyarakat karena terbangun pola saling berbagai diantara mereka sendiri.

Hal lain yang juga penting dilakukan adalah mendorong adanya aturan bersama untuk tertib dalam mengurus ternaknya, agar ternak yang dipelihara tidak berkeliaran dan mengganggu tanaman.

10. Membangun Sawung Kompos untuk mengatasi sampah
Sawung kompos adalah pabrik pupuk yang dimiliki oleh masyarakat desa untuk memproduksi pupuk kompos. Adanya sawung kompos diharapkan akan mengurangi pencemaran lingkungan dan sungai serta mendorong masyarakat untuk memanfaatkan pupuk kompos dan mengurangi ketergantungan petani terhadap pupuk kimia. Bahan baku pupuk kompos nantinya akan diambil dari hasil pemilahan sampah oleh masing-masing rumah tangga, dimana hal ini dilakukan dalam upaya mengurangi pencemaran lingkungan dan air oleh limbah rumah tangga. Bahan baku nantinya juga akan diperoleh dari limbah pertanian dan limbah pekan gotong royong, dalam rangkan penyediaan kotoran ternak untuk pemenuhan kebutuhan kompos, tim SLA akan menggalang dukungan pemerintah dan para pihak untuk pengadaan pinjaman ternak, untuk menjamin terseidanya kotoran ternak secara berkelanjutan.

11. Perbaikan Sanitasi & Prilaku Hidup Bersih Sehat.
Salah satu persoalan penyebab pencemaran sungai adalah buruknya sistem sanitasi yang ada saat ini dan kurang kesadaran untuk tidak membuang sampah disungai. Kebanyakan warga tidak mempunyai jamban yang baik dan tidak adanya pengelolaan limbah rumah rumah tangga agar tidak mencemari sungai. Dikawasan perairan sangat banyak dicemari oleh sampah sayuran dan bekas kemasan makanan dan minuman.

Tim SLA selanjutnya mengharapkan dukungan pemerintah untuk dapat menyediakan MCK umum bagi masyarakat yang bermukim dipinggiran aliran sungai, menyediakan tong-tong sampah ditempat umum dan meningkatkan pengetahuan masyarakat untuk mamanfaatkan limbah menjadi barang kerajinan dan pupuk kompos.

12. Pengembangan Seni & Budaya Masyarakat.
Desa-desa ini dihuni oleh 3 komunitas Melayu, Karo dan Jawa yang mempunyai akar budaya dan kesenian sendiri-sendiri. Tetapi saat ini kegiatan seni budaya ketiganya kurang berkembang. Dukungan pemerintah dan masyarakat luas sangat dibutuhkan akan seni dan budaya masyarakat ini dapat berkembang, saat ini sudah ada bibit-bibit seni budaya tari, musik, makan tradisional dan seni kerajinan yang kondisinya kurang berkembang. Dimasa yang akan datang diharapkan seni dan budaya masyarakat ini akan dapat mengambil peran yang cukup baik dalam mendorong pengembangan pariwisata dibukit lawang. Untuk mencapai kondisi itu tim SLA ini akan melakukan upaya pengegalangan dukungan dan kerjasama masyarakat dan pemerintah untuk menghidupkan kembali seni dan budaya masyarakat.

13. Budidaya Ikan
Kondisi alam desa-desa ini sangat sesuai untuk dikembangkan menjadi kawasan budaidaya ikan air tawar. Jaminan ketersediaan air sepanjang tahun dan adanya kolam-kolam masyarakat menjadi daya dukung bagi usaha pengembangan budidaya ikan. Saat ini beberapa kolam milik masyarakat kurang dimanfaatkan. Bahkan Balai Benih Ikan ( BBI) yang ada di desa Timbang Jaya masih belum bermanfaat secara oftimal. Dimasa yang akan datang diharapkan kegiatan budidaya ikan akan dapat berkembang dan Balai Benih Ikan ( BBI) diharapkan pengelolaan Balai benih Ikan akan dapat melibatkan masyarakat lebih intensif sehingga terjadi transfer pengetahuan, keterampilan dan memberikan dampak terhadap peningkatan pendapatan masyarakat.

14. Pemanfataan Pekarangan untuk penyediaan sayuran organic.
Meskipun ketiga desa ini subur, berbagai jenis sayuran dapat tumbuh dengan baik tetapi mayoritas masyarakat desa ini membeli sayuran untuk kebutuhan rumah tangganya. Motivasi bercocok tanam sayuran dikalangan masyarakat masih sangat rendah. Dimasa yang akan datang diharapkan masyarakat dapat menyediakan sendiri kebutuhan sayuran rumah tangganya dengan cara menanam dipekarangannya. Cara ini diharapkan akan mendorong perbaikan pengelolaan pekarangan, peningkatan kualitas sayuran, dan dapat menghemat pengeluaran rumah tangga agar dapat ditabung.

15. Peningkatan Modal Usaha.
Modal usaha merupakan salah satu persoalan yang menghambat masyarakat untuk dapat meningkatkan ekonomi dan produktifitasnya. Dalam upaya meningkatkan modal yang dimiliki saat ini dimasing-masing desa sudah terbentuk 2 kelompok Credit Union ( CU ) atau Usaha Bersama Simpan Pinjam ( UBSP). Melalui kegiatan ini diharapkan akan dapat mendorong anggota kelompok untuk bijak dalam mengelola dan memanfaatkan pendapatan keluarga. Dimasa yang akan dating diharapkan kelompok CU dapat menjadi BANK-nya masyarakat. Dimana masyarakat dapat menabung dan meminjam modal usaha dikelompok ini.
Agar kelompok CU ini dapat lebih cepat berkembang , pemerintah dn para pihak diharapkan dapat memberikan dukungan, pinjaman modal usaha untuk mendorong peningkatan produktifitas anggota sehingga modal usaha kelompok dapat cepat berkembang.

Atas saran pihak OCSP Medan untuk membuat rangking atas rencana aksi yang akan dilakukan masyarakat, rencana aksi yang disusun kemudian dirangkingkan kembali untuk mengetahui, yang mana dari kegiatan yang telah disusun itu termasuk dalam kegiatan prioritasI, Prioritas II, prioritas III dan prioritas IV. Yang termasuk dalam golongan prioritas I adalah kegiatan yang berhasil membangun keterpaduan antara kegiatan konservasi dengan kegiatan ekonomi, prioritas II adalah kegiatan yang hanya berorientasi pada kegiatan konservasi tetapi tidak berdampak pada ekonomi secara langsung. Priorotas II adalah kegiatan yang hanya untuk tujuan peningkatan ekonomi, tetapi kurang bernilai konservasi, sedang prioritas IV adalah kegiatan yang masyarakat tidak mampu melaksanakan sendiri.

Kegiatan penyusunan prioritas ini dilaksanakan sampai 3 kali pertemuan. Yaitu dilaksanakan pada minggu I bulan November 2008 dilaksanakan diposko ALIVE, pada pertemuan pertama diikuti oleh 24 orang peserta SLA, pertemuan kedua diikuti oleh 27 orang peserta dan pertemuan ketiga diikuti oleh 26 orang peserta.

Pada pembukaan pemandu & FA menempelkan rencana aksi pada dinding dan meminta peserta untuk mengamati rencana yang telah disusun, selanjutnya FA meminta peserta memberikan penjelasan bahwa pada pertemuan ini kita akan melakukan pemilihan aksi prioritas menjelaskan karena banyaknya rencana aksi yang akan dilakukan, kita tentu hanya bisa melakukannya secara bertahap, untuk itu penting bagi kita untuk memilih manakah kegiatan prioritasI, Prioritas II, prioritas III dan prioritas IV. Yang termasuk dalam golongan prioritas I adalah kegiatan yang berhasil membangun keterpaduan antara kegiatan konservasi dengan kegiatan ekonomi, prioritas II adalah kegiatan yang hanya berorientasi pada kegiatan konservasi tetapi tidak berdampak pada ekonomi secara langsung. Priorotas II adalah kegiatan yang hanya untuk tujuan peningkatan ekonomi, tetapi kurang bernilai konservasi, sedang prioritas IV adalah kegiatan yang masyarakat tidak mampu melaksanakan sendiri. Dan untuk menentukan hal itu, mari sama-sama kita amati, manakah dari rencana kita ini yang lebih bertujuan konservasi dan manakah dari kegiatan kita yang lebih bertujuan ekonomi.

FA meminta peserta untuk bersama-sama mengamati dan menilai rencana yang telah disusun dan memberikan penilaian. Hasil dari penilaian itu adalah sebagai berikut:

No KEGIATAN KETERANGAN
1. Mengurangi konflik dengan satwa Konservasi
2. Mengembangkan wisata konservasi Konservasi
3. Mengembangkan kebun campur Konservasi
4. Mengembangkan tanaman obat & tanaman hias Konservasi
5. Mengembangkan pertanian organik Ekonomi
6. Mengembangkan budidaya ikan Ekonomi
7. Melakukan tanam padi serempak Ekonomi
8. Reboisasi das Bohorok Konservasi
9. Membangun jembatan dan perbaikan jalan kebun ekonomi

Selanjutnya pemandu meminta peserta untuk mengisi skor atas semua rencana yang dilakukan

RENCANA AKSI KONSERVASI

PROGRAM : ACTION FOR LIVELIHOODS AND ENVIRONMENT ( ALIVE)
KABUPATEN : LANGKAT
DESA : TIMBANG JAYA
KEGIATAN : RESOLUSI KONFLIK DENGAN OU & SATWA ( KONSERVASI)

No AKTIFITAS Prioritas KONSERVASI EKONOMI JUMLAH
1 3 6 2 4 5 K E
1 Identifikasi lokasi konflik satwa dan pemilik kebun P1 4 3 4 4 3 3 11 10
2 Pembibitan Tanaman Pakan untuk OU P1 4 4 4 4 3 1 12 8
3 Mendokumentasikan Pengetahuan Mengatasi konflik OU dan satwa lain P1 4 4 1 4 2 1 9 7
4 Workshop Resolusi Konflik P1 4 3 3 4 1 1 10 6
5 Penanaman Pohon Buah dipinggiran Hutan P1 4 4 3 4 1 1 11 6
6 Loby, Dialog dan negosiasi untuk Kolaborasi Pengelolaan Hutan dengan TNGL P1 4 4 4 4 4 1 12 9

PROGRAM : ACTION FOR LIVELIHOODS AND ENVIRONMENT ( ALIVE)
KABUPATEN : LANGKAT
DESA : TIMBANG JAYA
KEGIATAN : PENGEMBANGAN WISATA KONSERVASI ( Ekonomi )

No AKTIFITAS Prioritas KONSERVASI EKONOMI JUMLAH
1 3 6 2 4 5 K E
1 Identifikasi lokasi wisata dan membuat daftar potensi pengembangan wisata P1 4 4 4 4 4 4 12 12
2 Worshop Penyusunan Konsef Kegiatan Wisata dan protokol pengelolaan wisata konservasi desa P1 4 4 4 4 4 4 12 12
3 Musyawarah Pembentukan Lembaga Pengelola wisata Konservasi P1 4 4 4 4 4 4 12 12
4 Sosialisasi & Kampanye untuk menggalang dukungan masyarakat Luas untuk Pengembangan Wisata P1 4 4 4 4 4 4 12 12
5 Pelatihan Kepemanduan/ Guide wisata konservasi dan kuliner P1 4 4 4 4 4 4 12 12
6 Wawancara dengan warga yang mehami cara membuat makanan dan masakan tradisional / masakan khas P1 4 4 4 4 4 4 12 12
7 Kunjungan Belajar ke desa lain yang telah mengembangkan model wisata konservasi P1 4 4 4 4 4 4 12 12
8 Dialog, Loby dan negosiasi untuk pengembangan usaha konservasi desa P1 4 4 4 4 4 4 12 12

PROGRAM : ACTION FOR LIVELIHOODS AND ENVIRONMENT ( ALIVE)
KABUPATEN : LANGKAT
DESA : TIMBANG JAYA
KEGIATAN : PENGEMBANGAN KEBUN CAMPUR & POLA PERTANIAN
RAMAH LINGKUNGAN  konservasi

No AKTIFITAS Prioritas KONSERVASI EKONOMI JUMLAH
1 3 6 2 4 5 E K
1 Kajian Perbandingan keuntungan dan manfaat kebun campur Vs mono kultur. P1 3 4 4 4 2 4 11 10
2 Pembibitan aneka jenis tanaman buah endemik P1 4 4 4 4 3 3 12 10
3 Sosialisasi dan kampanye Keuntungan dan manfaat Kebun Campur secara ekonomi dan ekologi P1 3 4 4 4 2 4 11 10
4 Dialog dengan pemdes untuk Mendorong Membuat adanya aturan yang membatasi konversi kebun campur menjadi monokultur P1 3 4 4 4 2 4 11 10
5 Melakukan Budidaya tanaman kebun yang Ramah Lingkungan P1 3 4 4 4 2 4 11 10
6 Sosialisasi & Kampanye Perlindungan Durian/Pengurangan penebangan pohon durian P1 3 4 4 4 2 4 11 10
7 Kunjungan Belajar ke desa yang berhasil mengembangkan kebun campur P1 3 4 4 4 2 4 11 10
8 Loby, dialog dan negosiasi Pemerintah dan Para Pihak P1 3 4 4 4 2 4 11 10

PROGRAM : ACTION FOR LIVELIHOODS AND ENVIRONMENT ( ALIVE)
KABUPATEN : LANGKAT
DESA : TIMBANG JAYA
KEGIATAN : PENGEMBANGAN TANAM OBAT &TANAMAN HIAS  ekonomi

No AKTIFITAS Prioritas KONSERVASI EKONOMI JUMLAH
1 3 6 2 4 5 K E
1 Wawancara dengan warga yang memahami
tanaman obat dan cara mengolahnya.
P3 1 1 1 4 4 4 3 12
2 Membudidayakan Tanaman Obat dan tanaman hias
P3 1 1 1 4 4 4 3 12
3 Pelatihan Mengolah Tanaman Obat
P3 1 1 1 4 4 4 3 12
4 Loby, dialog dan negosiasi Pemerintah dan Para Pihak untuk pemasaran tanaman tanaman hias dan obat
P3 1 1 1 4 4 4 3 12

PROGRAM : ACTION FOR LIVELIHOODS AND ENVIRONMENT ( ALIVE)
KABUPATEN : LANGKAT
DESA : TIMBANG JAYA
KEGIATAN : PENGEMBANGAN PERTANIAN ORGANIK & BUDIDAYA IKAN  ekonomi

No AKTIFITAS Prioritas KONSERVASI EKONOMI JUMLAH
1 3 6 2 4 5 E K
1 Pelatihan & Penyadaran Ekologi Tanah ( PET) P1 1 4 4 4 4 4 9 12
2 Pelatihan Pembuatan Pupuk Organik dan sistem pertanian berkelanjutan. P1 2 4 3 4 4 4 9 12
3 Pembuatan Demplot Pertanian Organik P1 1 4 3 4 1 4 8 9
4 Sosialisasi Hasil Kajian Pertanian berkelanjutan. P1 1 4 3 4 1 4 8 9
5 Kunjungan Belajar P1 1 4 3 4 1 4 8 9
6 Pengembangan Padi Organik. P1 1 4 3 4 1 4 8 9
7 Melakukan dialog dengan pemerintah desa untuk mendorong kegiatan tanam padi serempak. P1 1 4 3 4 1 4 8 9
8 Melakukan dialog dengan pemdes untuk membuat kebijakan desa untuk membatasi alhi fungsi sawah teknis menjadi kebun tanaman keras. P1 1 4 3 4 1 4 8 9
9 Melakukan loby dan dialog untuk Pemanfaatan balai benih Ikan sebagai penghasil Benih Ikan P1 1 4 3 4 1 4 8 9
10 Loby, dialog dan negosiasi Pemerintah dan Para Pihak untuk pengembangan pertanian organik P1 1 4 3 4 1 4 8 9

PROGRAM : ACTION FOR LIVELIHOODS AND ENVIRONMENT ( ALIVE)
KABUPATEN : LANGKAT
DESA : TIMBANG JAYA
KEGIATAN : REBOISASI DAS BOHOROK DAN LANDAK  Konservasi

No AKTIFITAS Prioritas KONSERVASI EKONOMI JUMLAH
1 3 6 2 4 5 E K
1 Pendataan lokasi reboisasi DAS P1 4 4 4 4 2 2 12 8
2 Identifikasi Penyebab Langkanya ikan dan langkanya biota di sungai bohorok dan Landak P1 1 4 4 4 1 4 9 9
3 Sosialisasi Dampak Erosi DAS kepada masyarakat luas dan petani pinggiran sungai P1 2 4 4 4 2 4 10 10
4 Pembibitan tanaman untuk kegiatan reboisasi DAS Bahorok dan Landak P1 4 4 4 4 2 2 12 8
5 Penanaman Pohon di DAS Bohorok dan Landak P1 4 4 4 4 2 1 12 7
6 Loby, dialog dan negosiasi Pemerintah dan Para Pihak untuk pengemabangan usaha reboisasi DAS P1 4 4 4 4 2 4

Catatan : P1: Prioritas Utama, P2: Prioritas II, P3 Prioritas III, P4: Prioritas IV

RENCANA AKSI KONSERVASI

PROGRAM : ACTION FOR LIVELIHOODS AND ENVIRONMENT ( ALIVE)
KABUPATEN : LANGKAT
DESA : TIMBANG JAYA
KEGIATAN : RESOLUSI KONFLIK DENGAN OU & SATWA

Kegiatan ini bertujuan untuk memecahkan persoalan konflik dengan orangutan yang selama ini menjadi hama bagi tanaman, disislain kegiatan ini bertujuan untuk melestarikan orangutan dan mencegah kematian orangutan karena konflik dengan masyarakat.

No AKTIFITAS TUJUAN VOLUME WAKTU LOKASI PELAKSANA PIHAK YANG DILIBATKAN SUMBER DAYA YANG DIBUTUHKAN
1 Identifikasi lokasi konflik satwa dan pemilik kebun Memperoleh data kebun lokasi konflik dan sikap petani terhadap OU dan satwa lain. 2 kali Juli, Desember 2008 Sei landak, Batu Kapal Aidil
Bapak Abdurahman, Suriayadi, Abdullah
Saiful Ricky 1
2
3 ALIVE
OCSP
BBTNGL Alat dan bahan untuk pendokuemntasian
2 Pembibitan Tanaman Pakan untuk OU Mengadakan bibit untuk kegiatan penanaman pohon buah sebagai pakan OU 10.000 Pohon November, Desember, Januari, Februari, Maret, April Pekarangan Pak Abdurrahman Aidil
Bapak Abdurahman, Suriayadi, Abdullah
Saiful Ricky 1
2
3
4
5 ALIVE
BBTNGL
Dinas kehutan
Pemda langkat & instansi terkait Bahan & Peralatan : Cangkul, Gembor, Kotoran Hewan dan Tanah timbun
3 Mendokumentasikan Pengetahuan tatacara mengatasi konflik dengan OU dan satwa lain Menggali informasi & pengetahuan tata cara menghalau orangutan dari masyarakat dan para ahli satwa/OU 2 kali Desember 2008 dan Februari 2009 Rumah Petani Aidil
Bapak Abdurahman, Suriayadi, Abdullah
Saiful Ricky 1
2
3
4
5
6 PEMDES
ALIVE
OCSP
BBTNGL
Dinas kehutan
Pemda langkat & instansi terkait 1. Nara Sumber
2. Fasilitasi Pelatihan
3. Bahan bahan Bacaan
4 Workshop Resolusi Konflik Menyusun tata cara penyelesaian konflik dengan Ou dan satwa lain yang paling efektif 1 kali Januari 2009 Bukit Lawang Aidil
Bapak Abdurahman, Suriayadi, Abdullah
Saiful Ricky 1
2
3
4
5
6 ALIVE
OCSP
BBTNGL
Dinas kehutan
Pemda langkat & instansi terkait 1. Nara Sumber
2. Fasilitasi Pelatihan
3. Bahan bahan Bacaan
5 Penanaman Pohon Buah dipinggiran Hutan Menyediakan pakan OU untuk mengurangi gangguan OU dan satwa lain terhadap tanaman masyarakat. 10.000 Pohon Mulai November 2008 dst Batu Kapal, Sei Landak Aidil
Bapak Abdurahman, Suriayadi, Abdullah
Saiful Ricky 1
2
3
4
5 ALIVE
OCSP
BBTNGL
Dinas kehutan
Pemda langkat & instansi terkait Dukungan Konsumsi saat pelaksanaan pengakutan dan penanaman serta perawatan tanaman
6 Loby, Dialog dan negosiasi untuk Kolaborasi Pengelolaan Hutan dengan TNGL Membangun kesepahaman agar terbangun kerjasama antara masyarakat dgn TNGL dalam mengelola ( melindungi, menjaga dan memanfaatkan ) kawasan konservasi TNGL. 2 kali Januari 2009 Desa T Jaya dan Kantor TNGL Aidil
Bapak Abdurahman, Suriayadi, Abdullah
Saiful Ricky 1
2
3
4
5
ALIVE
OCSP
BBTNGL
Dinas kehutan
Pemda langkat & instansi terkait 1. Biaya Transfort
2. Biaya Akomodasi
3. Biaya Konsumsi
4. Fasilitator / Mediator

PROGRAM : ACTION FOR LIVELIHOODS AND ENVIRONMENT ( ALIVE)
KABUPATEN : LANGKAT
DESA : TIMBANG JAYA
KEGIATAN : PENGEMBANGAN WISATA KONSERVASI

Kegiatan ini bertujuan untuk mengembangkan wisata yang dikelola oleh desa, wisata ini diharapkan akan mendukung upaya konservasi dan meningkatkan kepedulian masyarakat untuk melestarikan lingkungannya

No AKTIFITAS TUJUAN VOLUME WAKTU LOKASI PELAKSANA PIHAK YANG DILIBATKAN SUMBER DAYA YANG DIBUTUHKAN
1 Identifikasi lokasi wisata dan mendaftar potensi wisata Mendata lokasi sungai, kebun, kegiatan pertanian, kerajinan dan makanan yang menarik menjadi objek wisata. 2 kali Nov 2008-Januari 2008 Desa Timbang Jaya dan Wilayah TNGL Aidil
Abdurahman, Suriayadi, Abdullah
Saiful Ricky 1
2
Pemdes
ALIVE Biaya konsumsi dalam kegiatan identifikasi lokasi wisata
2 Worshop Penyusunan protokol pengelolaan wisata konservasi desa Membuat model/bentuk kegiatan wisata yang akan dikembangkan, aktifitas, menu wisata yang akan ditawarkan dan aturan distribusi manfaat wisata dan aturan untuk kelembagaan pengelola wisata. 2 Kali pertemuan Januari 2009 Bukit Lawang Aidil
Abdurahman, Suriayadi, Abdullah
Saiful Ricky
Wayan Dadu 1
2
3
4
5
6
7
ALIVE
OCSP
WCS
BBTNGL
Pemdes
Dinas Pariwisata
Pemda langkat & instansi terkait 1. Nara Sumber, pelatih
2. Pelatihan
3. Dana untuk pelaksanaan worshop
3 Musyawarah Pembentukan Lembaga Pengelola wisata Konservasi Membentuk Lembaga pengelola wisata dan membuta aturan organisasi pengelola wisata. 3

3 Kali untuk tiap desa

Kali pertemuan 3 desa Maret 2008 Desa T Jaya

Bukit lawang Aidil
Abdurahman, Suriayadi, Abdullah
Saiful Ricky 1
2
3
4
5
6
7
ALIVE
OCSP
WCS
BBTNGL
Pemdes
Dinas Pariwisata
Pemda langkat & instansi terkait 1. Nara Sumber, pelatih
2. Pelatihan
3. Dana untuk pelaksanaan worshop
3 Sosialisasi & Kampanye untuk menggalang dukungan masyarakat Luas untuk Pengembangan Wisata Adanya dukungan masyarakat dalam upaya pengembangan wisata konservasi 2 Kali pertemuan desa Februari…. Dst Desa timbang Jaya

Kantor Camat Bohorok

Pemda Langkat Aidil
Bapak Abdurahman, Suriayadi, Abdullah
Saiful Ricky 1
2

3 Pemdes
Pemda dan instansi terkait
Dinas Pariwisata 1. Bahan Publikasi
4 Pelatihan Kepemanduan/ Guide wisata konservasi dan kuliner Para Pemandu Wisata Memperoleh Pengetahuan tentang Tata Cara memandu wisata dan mensosialisasikan pengetahuan konservasi. 2 kali Februari 2008 Bukit Lawang Aidil
Abdurahman, Suriayadi, Abdullah
Saiful Ricky 1

2

3
Dinas Pariwisata langkat
Dinas Pariwisata langkat
HPI Bukit Lawang 1. Nara Sumber, pelatih
2. Pelatihan
3. Dana untuk pelaksanaan worshop
5 Dialog, Loby dan negosiasi untuk pengembangan usaha konservasi desa Adanya dukungan Pemda dan para pihak untuk pengembangan kegiatan konservasi dan wisata 2 kali Mulai November 2008 – dst Kantor Pemda & dinas-dinas terkait serta camat Aidil
Abdurahman, Suriayadi, Abdullah
Saiful Ricky 1
2
3
4
5
6
7
ALIVE
OCSP
WCS
BBTNGL
Pemdes
Dinas Pariwisata
Pemda langkat & instansi terkait 1. bahan publikasi
2. pelatihan
6 Wawancara dengan warga yang memahami cara membuat makanan dan masakan tradisional / masakan khas Menggali informasi dan pengetahuan tentang makanan dan masakan tradisional.
Mengembangkan aneka jenis makanan yang mempunyai keterkaitan dengan kebutuhan pelestarian keanekaragaman hayati Agustus 2008 – Desember 2008 Desa Timbang Jaya dan desa-desa sekitarnya Aidil
Abdurahman, Suriayadi, Abdullah
Saiful Ricky 1
2 Masyarakat Desa
Pemdes Alat dan bahan untuk pendokuemntasian
6 Kunjungan Belajar ke desa lain yang telah mengembangkan model wisata konservasi Menambah pengetahuan peserta study dan bahan perbandingan kegiatan wisata.
Menguatkan motivasi dan kesadaran pentingnya pelestarian lingkungan dalam kegiatan wisata. 2 kali Januari 2009 Aidil
Bapak Abdurahman, Suriayadi, Abdullah
Saiful Ricky 1
2
4
5
6
7
ALIVE
OCSP
BBTNGL
Pemdes
Dinas Pariwisata
Pemda langkat & instansi terkait 1. Biaya Transfort
2. Biaya Akomodasi
3. Biaya Konsumsi
4. Pemandu Kegiatan
7 Loby, dialog dan negosiasi Pemerintah dan Para Pihak untuk pengembangan wisata konservasi Memperoleh dukungan pemerintah dan para pihak untuk mengembangkan kegiatan yang sedang dilakukan. 2 kali Desember 2008 – April 2009 Kantor Pemda & dinas-dinas terkait serta camat Aidil
Abdurahman, Suriayadi, Abdullah
Saiful Ricky 1
2
4
5
6
7
ALIVE
OCSP
BBTNGL
Pemdes
Dinas Pariwisata
Pemda langkat & instansi terkait 1. Biaya Transfort
2. Biaya Akomodasi
3. Biaya Konsumsi
4. Fasilitator / Mediator

PROGRAM : ACTION FOR LIVELIHOODS AND ENVIRONMENT ( ALIVE)
KABUPATEN : LANGKAT
DESA : TIMBANG JAYA
KEGIATAN : PENGEMBANGAN KEBUN CAMPUR & POLA PERTANIAN RAMAH LINGKUNGAN

Kegiatan ini bertujuan untuk mendorong pengembangan kebun campur dan menghambat konversi kebun campur menjadi kebun monokultur serta mengembangkan pengetahuan dan pemahaman masyarakat tentang pentingnya kebun campur dan manfaat ekonomis dan ekologis kebun campur.

No AKTIFITAS TUJUAN VOLUME WAKTU LOKASI PELAKSANA PIHAK YANG DILIBATKAN SUMBER DAYA YANG DIBUTUHKAN
1 Kajian Perbandingan keuntungan dan manfaat kebun campur Vs mono kultur. Mengetahui keuntungan kebun campur dibandingkan kebun tunggal dan manfaat kebun campur bagi lingkungannya. 2 Kali Desember 2008 Desa Timbang Jaya Tim Aksi Pengembangan Kebun Campur dan Pola Pertanian Organik 1
2
4
5
6

7 ALIVE
OCSP
BBTNGL
Pemdes
Dinas Pertanian
WCS Tenaga Pelatih
Bahan bacaan

2 Pembibitan aneka jenis tanaman buah endemik Menyediakan bibit dan mendorong masyarakat menanam berbagai jenis tanaman dikebunnya. 5.000 Pohon Juli – Desember 2008 Lokasi Pembibitan Kelompok Sda 1
2
4
5
6
7
ALIVE
OCSP
BBTNGL
Pemdes
Dinas Pariwisata
Pemda langkat & instansi terkait 1. Tenaga Pelatih
2. Bahan Bacaan
3. Bahan Pembibitan
4. Alat untuk pembibitan
3 Sosialisasi dan kampanye manfaat Kebun Campur secara ekonomi dan ekologi Menyampaikan informasi dan pengetahuan tentang manfaat dan keuntungan kebun campur. 5 Pertemuan Desember 2008 – dst Desa Timbang Jaya Sda 1
2
3
4

Pemeerintah Desa
Dinas Pertanian
Kecamatan
Wartawan Pencetakan hasil kajian
4 Dialog untuk Mendorong adanya aturan yang membatasi konversi kebun campur menjadi monokultur Mendorong pertemuan desa untuk membuat aturan desa yang melarang penebangan pohon durian dan alih fungsi kebun campur menjadi kebun monokultur. 3 Kali pertemuan desa Maret 2008 Desa Timbang Jaya Sda 1
2
3
4

ALIVE
OCSP
Pemdes
WCS

Biaya pertemuan

5 Melakukan Budidaya tanaman kebun yang Ramah Lingkungan Mengurangi Pencemaran Lingkungan dari kegiatan pertanian akibat pencemaran bahan kimia pertanian. 2.500 Ha November 2008 – dst Kebun Sda 1
2
3

ALIVE
OCSP
Pemdes
1. Tenaga Pelatih
2. Bahan Bacaan
3. Bahan Pembibitan
4. Alat untuk pembibitan
6 Sosialisasi & Kampanye Perlindungan Durian/Pengurangan penebangan Semakin banyak masyarakat yang perduli untuk melestarikan durian Bohorok 2 kali Desember 2008 – dst Desa Timbang Jaya Sda 1
2
3
4

ALIVE
OCSP
Pemdes
Dinas Perkebunan

Biaya pertemuan

7 Kunjungan Belajar ke desa yang berhasil mengembangkan kebun campur Memperoleh pengetahuan dari warga desa lain tentang praktek pertanian kebun campur 1 kali Januari 2008 N.a. Sda 1
2
3
4

ALIVE
OCSP
Pemda Langkat & instansi terkait 1. Biaya Transfort
2. Biaya Akomodasi
3. Biaya Konsumsi
4. Fasilitator / Mediator
8 Loby, dialog dan negosiasi Pemerintah dan Para Pihak Memperoleh dukungan pemerintah dan para pihak untuk mengurangi laju konversi lahan dikebun kawasan penyangga dan pengembangan kebun campur. 3

kali loby Januari – Februari 2008 Kantor Pemda & dinas-dinas terkait serta camat Sda 1
2
3

ALIVE
OCSP
Pemdes WCS 1. Biaya Transfort
2. Biaya Akomodasi
3. Biaya Konsumsi
4. Fasilitator / Mediator

PROGRAM : ACTION FOR LIVELIHOODS AND ENVIRONMENT ( ALIVE)
KABUPATEN : LANGKAT
DESA : TIMBANG JAYA
KEGIATAN : PENGEMBANGAN TANAM OBAT &TANAMAN HIAS
Kegiatan ini bertujuan untuk mendorong pengembangan tanaman obat dan meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang jenis-jenis tanaman yang berkhasiat obat, cara membudidayakannya dan cara mengolahnya serta mengembangkan akses pasar

No AKTIFITAS TUJUAN VOLUME WAKTU LOKASI PELAKSANA PIHAK YANG DILIBATKAN SUMBER DAYA YANG DIBUTUHKAN
1 Mengidentifikasi warga yang mempunyai pengetahuan tentang tanaman obat Mencari narasumber local yang mempunyai pengetahuan tentang jenis tanaman obat 2 Kali Desember 2008 Timbang Jaya & Desa Sekitarnya Rohani
Reni
Fatmawati
Hamidah
Nurhamidah
1
2
3
4

5 ALIVE
OCSP
Pemdes
PATRA MANDIRI
BITRA Alat dan bahan untuk pendokuemntasian
2 Wawancara dengan warga yang memahami jenis tanaman obat dan cara mengolahnya. Mengumpulkan pengetahuan tentang manfaat tanaman obat dan cara mengolah tanaman obat Pohon Desember 2008 T Jaya & desa-desa sekitarnya Rohani
Reni
Fatmawati
Hamidah
Nurhamidah
1
2
ALIVE
Pemdes
Alat dan bahan untuk pendokuemntasian
3 Membudidayakan Tanaman Obat dan tanaman hias Mengembangkan tanaman obat dan tanaman hias 1.000 Pohon November 2008- dst Pekarangan Aidil Rohani
Reni
Fatmawati
Hamidah
Nurhamidah
1
2
3
4
5

6
ALIVE
Pemdes
Dinas Pertanian
Dinas Kesehatan Pemda Langkat
Alat & Bahan serta bibit untuk kegiatan Budidaya
3 Pelatihan Mengolah Tanaman Obat Mempelajari cara mengolah tanaman obat 2 kali Maret 2008 Posko ALIVE T Jaya Rohani
Reni
Fatmawati
Hamidah
Nurhamidah
1
2
3
4
5

6

7
ALIVE
Pemdes
Dinas Pertanian
Dinas Kesehatan Pemda Langkat
PATRA MANDIRI
Pelatih

Pembiayaan kegiatan pelatihan

Pendampingan
4 Loby, dialog dan negosiasi Pemerintah dan Para Pihak Memperoleh dukungan pemerintah dan para pihak untuk mengembangkan kegiatan yang sedang dilakukan. 3 kali Januari –Maret 2008 Kantor Pemda & dinas-dinas terkait serta camat Rohani
Reni
Fatmawati
Hamidah
Nurhamidah
1
2
3
4
ALIVE
PEMDES
OCSP
CAMAT Fasilitasi Dialog, Loby dan negosiasi
5 Pemasaran tanaman Obat dan tanaman Hias Mengembangkan pasar tanaman hias dan obat Maret 2009 – dst Rohani
Reni
Fatmawati
Hamidah
Nurhamidah
1
2
3
4
5

6

7
ALIVE
Pemdes
Dinas Pertanian
Dinas Kesehatan Pemda Langkat
PATRA MANDIRI Pelatihan Promosi Hasil Kegiatan

PROGRAM : ACTION FOR LIVELIHOODS AND ENVIRONMENT ( ALIVE)
KABUPATEN : LANGKAT
DESA : TIMBANG JAYA
KEGIATAN : PENGEMBANGAN PERTANIAN ORGANIK & BUDIDAYA IKAN

Kegiatan ini bertujuan untuk mendorong pengembangan model pertanian organic untuk mencegah kerusakan lingkungan dan mengurangi ketergantungan terhadap berbagai produk kimia pertanian agar biaya produksi dapat dikurangi sehingga keuntungan petani lebih besar dan lingkungannya akan tetap lestari

No AKTIFITAS TUJUAN VOLUME WAKTU LOKASI PELAKSANA PIHAK YANG DILIBATKAN SUMBER DAYA YANG DIBUTUHKAN
1 Pelatihan & Penyadaran Ekologi Tanah Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan melakukan pertanian organik 2 Kali Januari 2009 Desa Timbang Jaya Team Aksi Pengembangan Pertanian Organik dan Budidaya ikan air tawar 1
2 ALIVE
ESP
Fasilitasi Kegiatan pelatihan
2 Pelatihan Pembuatan Pupuk Organik dan sistem pertanian berkelanjutan. Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan melakukan pertanian berkelanjutan 2 kali Januari 2009 Posko ALIVE Sda 1
2 ALIVE
ESP 1. Fasilitasi Pelatihan
2. Pelatih
3 Pembuatan Demplot Pertanian Organik Melakukan praktek pertanian organik 2 kali Januari 2009 Persawahan Sda 1
2
3 ALIVE
ESP
Pemerintah Desa 1. Fasilitator
2. Pengadaan, Saran alat dan bahan
3 Sosialisasi Hasil Kajian Pertanian berkelanjutan. Menyebarluaskan informasi dan pengetahuan model pertanian berkelanjutan 2 kali Januari 2009 Desa Timbang Jaya Sda 1
2
3
4 ALIVE
ESP
Pemerintah Desa
Dinas Pertanian 1. Fasilitasi pertemuan
2. Perbanyak bahan hasil kajian
4 Kunjungan Belajar Melihat kelangsung kegiatan pertanian berkelajutan olehn petani di desa lain 1 kali Januari 2009 Bapak Bangun Sda 1
2
3
4 ALIVE
ESP
Pemerintah Desa
Dinas Pertanian 1. Fasilitasi Kunjungan Belajar
5 Pengembangan Padi Organik. Mengembangkan model budidaya padi secara organik 30 Ha Januari 2009 Persawahan Sda 1
2
3
4 ALIVE
ESP
Pemerintah Desa
Dinas Pertanian 1. Fasilitasi Pelatihan
2. Pelatih
5 Melakukan dialog dengan pemerintah desa untuk mendorong kegiatan tanam padi serempak. Mengembangkan model budidaya padi secara organik 3 kali Januari 2009 Desa Timbang Jaya Sda 1
2
3
4

5 ALIVE
ESP
Pemerintah Desa
Dinas Pertanian
Kecamatan Fasilitasi Dialog
5 Melakukan dialog dengan pemdes untuk membuat kebijakan desa untuk membatasi alih fungsi sawah teknis menjadi kebun tanaman keras. Mendorong adanya peraturan untuk membatasi alih fungsi lahan sawah menjadi kebun tanaman keras 3 kali Januari 2009 Desa Timbang Jaya Sda 1
2
3
4

5 ALIVE
ESP
Pemerintah Desa
Dinas Pertanian
Kecamatan Fasilitasi Dialog
6 Melakukan loby dan dialog untuk Pemanfaatan balai benih Ikan sebagai penghasil Benih Ikan Adanya izin dan dukungan pemda untuk mengelola dan memfungsikan kembali balai benih ikan 3 kali Januari 2009 Dias Perikanan Sda 1
2
3
4

5 ALIVE
ESP
Pemerintah Desa
Dinas Perikanan
Kecamatan Fasilitasi Dialog
7 Loby, dialog dan negosiasi Pemerintah dan Para Pihak untuk pengembangan pertanian organik Memperoleh dukungan pemerintah dan para pihak untuk mengembangkan kegiatan yang sedang dilakukan. 3 kali Januari 2009 Dinas Pertanian Sda 1
2
3
4

5 ALIVE
ESP
Pemerintah Desa
Dinas Perikanan
Kecamatan Fasilitasi Dialog

PROGRAM : ACTION FOR LIVELIHOODS AND ENVIRONMENT ( ALIVE)
KABUPATEN : LANGKAT
DESA : TIMBANG JAYA
KEGIATAN : REBOISASI DAS BOHOROK DAN LANDAK

Kegiatan ini bertujuan untuk melakukan perbaikan & penambahan vegetasi disepanjang DAS Bohorok dan DAS Landak, dimana saat ini terjadi pengikisan/ erosi pada bantaran sungai

No AKTIFITAS TUJUAN VOLUME WAKTU LOKASI PELAKSANA PIHAK YANG DILIBATKAN SUMBER DAYA YANG DIBUTUHKAN
1 Identifikasi Lokasi DAS yang kritis Memperoleh data –lokasi DAS kritis yang perlu direboisasi 2 Kali November –Desember 2008 Sungai Bohorok & Landak Team Aksi Reboisasi DAS Bohorok dan DAS Landak 1
2
3 Pemdes
ESP
ALIVE Alat dan bahan untuk pendokuemntasian
Identifikasi Penyebab Langkanya ikan dan langkanya biota di sungai bohorok dan Landak Memperoleh informasi dan pengetahuan penyebab langkanya biota sungai dan pencemaran air sungai 1 kali Desember 2008 Sungai Bohorok & Landak Sda 1
2
3
4

5 Pemdes
ESP
ALIVE
Dinas Perikanan
BAPEDA 1. Pemandu
2. Alat dan bahan untuk pendokuemntasian
2 Sosialisasi Dampak Erosi DAS kepada masyarakat luas dan petani pinggiran sungai Menyebarluaskan informasi dan pengetahuan tentang dampak erosi DAS dan dampak gundulnya kawasan DAS 2 Kali pertemuan desa Januari 2009 – dst Desa Timbang Jaya, Bukit Lawang dan Sampe Raya Sda 1
2
3
4

5
6 Pemdes
ESP
ALIVE
Dinas Perikanan
BAPEDA
Dinas Pertanian 1. Bahan Publikasi
2. fasilitasi Kegiatan pertemuan
3 Pembibitan tanaman untuk kegiatan reboisasi DAS Bahorok dan Landak Menyediakan bibit untuk reboisasi DAS 1.000 pohon November 2008 Desa Timbang Jaya Sda 1
2
3
4

5
6

7 Pemdes
ESP
ALIVE
Dinas Perikanan
BAPEDA
Dinas Pertanian
Dinas Perkebunan Bahan & alat serta sarana Pembibitan
4 Penanaman Pohon di DAS Bohorok dan Landak Mengurangi laju erosi di DAS dan mengurangi pencemaran air sungai Bohorok dan Landak 2.000 Januari 2009 Desa Timbang Jaya Sda 1
2
3
4
5
Pemdes
ESP
ALIVE
OCSP
Dinas PU Irigasi Alat Penanaman
5 Dialog Masyarakat untuk mengurangi pencemaran air sungai. Membangun kesepakatan dan kesepahaman pentingnya menjaga kebersihan sungai Bohorok. 2 Kali pertemuan Januari 2008 Kantor Pemda & dinas-dinas terkait serta camat Sda 1
2
3 Pemdes
ESP
ALIVE 3. Fasilitasi pertemuan
4. Narasumber
5. Fasilitator
6 Loby, dialog dan negosiasi Pemerintah dan Para Pihak Menggalang kungan pemerintah dan para pihak untuk mengembangkan kegiatan yang sedang dilakukan. 3 kali November 2008 Pemda Langkat Sda 1
2
3 Pemdes
ESP
ALIVE 1. Fasilitasi pertemuan
2. Narasumber
3. Fasilitator

GAMBARAN AKSI KONSERVASI
MASYARAKAT DESA TIMBANG JAYA
Sejak Minggu ke II bulan November masyarakat ketiga desa ini telah melaksanakan aksi-aksi konservasi dan peningkatan ekonomi. Untuk mensinergikan upaya konservasi dari masing-masing desa pada setiap awal minggu, team aksi konservasi setiap desa berkumpul untuk menilai perkembangan aksi-aksi yang telah dilakukan dan menyusun rencana aksi yang akan dilaksanakan dalam minggu itu.
Upaya-upaya yang telah dilakukan antara lain:
1. MENGURANGI GANGGUAN OU & SATWA LAINNYA DIKEBUN
Menindaklanjuti program aksi resolusi konflik dengan OU dan satwa lainnya yang telah disusun dalam rencana desa, pada minggu ke II bulan November 2008 ini masyarakat 3 desa melakukan pembibitan tanaman buah yang nantinya akan ditanam dikebun pinggiran hutan sebagai pakan satwa. Tim aksi konservasi desa Timbang Jaya melakukan pembibitan 1.000 bibit, yang terdiri dari ; pohon durian, pohon kakao, pohon mangga dan sisanya pembibitan tanaman bunga hias dan tanaman obat.
Dalam upaya mengurangi konflik dengan satwa, Tim Aksi dari setiap juga juga sudah mulai memetakkan dan mendata kebun-kebun yang sering dikunjungi OU dan satwa lainnya. Di desa Timbang Jaya lokasi konflik dengan OU terjadi di kawasan Gua Batu Kapal, kawasan ini berbatasan langsung dengan hutan TNGL. Jenis satwa yang sering merusak tanaman tidak hanya OU tetapi juga rusa dan babi, dan beruang. Lokasi konflik juga terjadi di kawasan Batu mandi dan kebun-kebun yang berada diseberang sungai Landak yangberbatasan langsung dengan hutan TNGL. Diwilayah ini beruang juga sering masuk ke kebun dimalam hari, terutama pada saat musim buah durian, yang biasanya berlangsung pada bulan Juli – Desember.

2. MENGEMBANGKAN WISATA DESA KONSERVASI.
Kegiatan ini bertujuan menguatkan kepedulian masyarakat untuk menjaga dan melestarikanekosistem desanya dengan menggali potensi yang ada untuk dimanfaatkan secara berkelanjutan untuk dapat memberikan manfaat ekonomi kepada masyarakat . Sehubungan dengan program tersebut, Pada minggu II bulan November ini, tim aksi desa Timbang Jaya sudah melakukan upaya pemetaan lokasi-lokasi yang mempunyai potensi untuk menarik kunjungan wisatawan dan mengambil poto-poto untuk mempersiapkan data dasar tentang lokasi-lokasi yang akan dijadikan objek kunjungan wisatawan nantinya.
Tahap selanjutnya tim ini bersama pemerintah desa akan menyusun sebuah model desa wisata yang akan dikembangkan desanya, termasuk jenis aktifitas untuk wisatawan, suguhan yang akan diberikan masyarakat kepada para wisatawan, baik makanan maupun kesenian. Serta akan menyusun paket wista di desa Timbang Jaya. Kegiatan ini akan dilakukan bersama-sama dengan masyarakat didesa kelompok SL dan pemerintah desa Sampe Raya & Timbang Lawan.
3. PENGEMBANGAN SENI-BUDAYA BERNILAI KONSERVASI
Dalam upaya mengembangkan warisan tradisional yang benilai konservasi, tim aksi SLA desa Timbang Jaya menggali kearfian makanan tradisional BUBUR PEDAS, yaitu jenis makanan tradisional yang dibuat dari banyak jenis tanaman. Makanan ini sendiri mempunyai nilai obat karena dibuat dari berbagai jenis tanaman dan rempah-rempah tyang berkhasiat obat. Pada bulan puasa lalu tim ini telah membuat bubur pedas dan memasarkannya . memalui media bubur pedas tim ini menyampaikan informasi pentingnya berbagai jenis tanaman untuk terus dilestarikan, karena hanya dengan itu BUBUR PEDAS yang mempunyai banyak khasiat akan dapat dilestarikan. Makanan ini nantinya akan dijadikan sebagai salah satu menu bagi wisatawan yang berkunjung ke desa dalam rangka menikmati aktifitas wisata konservasi.
4. DIALOG DENGAN CAMAT BOHOROK
Pemerintah kecamatan adalah salah satu institusi yang perlu didekati dalam upaya menggalang dukungan pemerintah daerah dan berbagai pihak terhadap aksi yang disusun desa. Leh karena itu, tim SLA 3 desa Timbang Lawan, Timbang Jaya dan Sampe Raya melakukan kunjungan ke kantor camat dalam rangka melakukan dialog untuk mempromosikan kegiatan yang dilakukan dan menggalang dukungan pihak kecamatan terhadap rencana aksi desa dan meminta camat untuk memfasilitasi desa melakukan dilog dan loby dengan pemerintah superstrukturnya.